Rumah Sakit Rujukan Covid-19 di Bandung Kekurangan Ruang Isolasi

Direktur Utama Rumah Sakit Khusus Ibu Anak (RSKIA) Kota Bandung, dr. Taat Tagore D. Rangkuti, (tengan berbaju putih) Saat Berkegiatan di Mako Diskar PB Kota Bandung. (jabartoday/eddy koesman)

JABARTODAY.COM – BANDUNG Direktur Utama Rumah Sakit Khusus Ibu Anak (RSKIA) Kota Bandung dr. Taat Tagore D. Rangkuti membantah kabar yang menyebut RSKIA sebagai rumah sakit rujukan khusus aparatur sipil negara (ASN) positif Covid-19.

Taat menyebut RS yang dia pimpin sebagai rumah sakit rujukan yang juga menangani pasien masyarakat umum positif Covid-19.

Namun Taat mengaku tidak bisa menyebutkan riwayat pasien Covid-19 yang dirawat secara terbuka, sebab hanya dapat diberitahukan kepada pihak yang berwenang saja sesuai UU No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan, UU No.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

“Hal ini kami sampaikan terkait adanya anggapan bahwa RSKIA hanya dijadikan RS rujukan pasien Covid-19 ASN saja,” katanya.

Menyoal ruang isolasi pasien Covid-19 di RSKIA Kota Bandung, dimana dari 34 tempat tidur yang tersedia, sudah terisi penuh. Taat mengungkapkan, tren peningkatan pasien berstatus orang tanpa gejala (OTG) di ruang isolasi RSKIA memang sudah terjadi sejak sepekan lalu.

Baca Juga

“Dari 34 tempat tidur yang kami miliki, saat ini kondisinya sudah penuh, sehingga tidak dapat menerima pasien baru,” ujar Mantan Direktur RSUD kota Bandung ini, saat ditemui di sela kegiatan di Mako Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung, Rabu (9/9/2020).

Taat mengatakan, penuhnya ruang isolasi di RSKIA Kota Bandung, karena pasien OTG lebih memilih melakukan isolasi mandiri di rumah sakit dibandingkan di rumahnya. Hal itu karena lebih memertimbangkan dampak penularan pada anak balita maupun orangtua atau lansia yang menjadi kelompok paling rentan terpapar covid-19.

“Pertimbangannya bila isolasi mandiri di rumah, kuantitas bertemu dengan anggota keluarga akan lebih sering, sehingga potensi penularan pun lebih tinggi,” tukasnya.

Taat menjelaskan, ruang isolasi RSKIA Kota Bandung hanya diperuntukan menampung para tenaga kesehatan yang terkonfirmasi OTG, karena bila mereka kembali pulang ke rumah dan bertemu keluarga beresiko penularan mudah terjadi.

“Belakangan diminta untuk menampung para ASN Kota Bandung dan masyarakat. Kami pun segera menggelar rapat dengan  manajemen, guna membahas kemungkinan bertambahnya ketersediaan tempat tidur di ruang isolasi untuk dapat melayani kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Related posts