Kontraktor Harus Ubah Paradigma

  • Whatsapp

Ketua Kamar Dagang dan Industri Jabar 2013-2018, Agung Suryamal Soetisno.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Jabar 2013-2018, Agung Suryamal Soetisno.

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Pada tahun depan, sebuah ajang kerjasama ekonomi negara-negara ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN bergulir. Saat itu, kompetisi kian ketat, tidak hanya dalam hal produk dan barang, tetapi juga dunia usaha serta tenaga kerja.
 
Persaingan ketat pun terjadi pada sektor jasa konstruksi. Menjelang MEA 2015 bergulir, sebaiknya, para pelaku usaha jasa konstruksi melakukan perubahan paradigma bisnis. “Sebelumnya, paradigmanya melalui kedekatan dan koneksi dengan kalangan birokrat. Ketika MEA 2015 bergulir, para pelaku usaha jasa konstruksi harus bersikap profesional dan lebih menaati regulasi,” ujar Ketua Kamar Dagang dan Industri Jawa Barat, Agung Suryamal Soetisno, pada sela-sela diskusi tentang Tertib Penyelenggaraan Jasa Konstruksi Jawa Barat di Hotel Horison, Rabu (8/10/2014).
 
Agung menegaskan, pada era persaingan yang kian ketat dan lebih profesional, sudah saatnya, para pelaku bisnis jasa konstruksi melek hukum dan regulasi. Jika tidak, kata dia, mereka dapat terjerat permasalahan. Diantaranya, terjerat tindak pidana korupsi.
 
Agung melanjutkan, sejauh ini, tidak banyak pelaku usaha jasa konstruksi yang memahami regulasi berkenaan dengan bidang tersebut. Itu terjadi, jelasnya, kerap terjadinya perubahan peraturan.”Banyak peraturan baru dalam dunia jasa konstruksi yang belum terpahami dan diketahui para pebisnis jasa konstruksi,” ucapnya.
 
Karenanya, sambung Agung, perlu berbagai upaya sosialisasi berkaitan dengan kerap terbitnya peraturan baru jasa konstruksi. Sosialisasi itu, tambah dia, tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga aparat penegak hukum. Diakuinya, sejauh ini, cukup banyak pelaku usaha jasa konstruksi yang terjegal kasus hukum karena kurang memahami regulasi-regulasi yang cukup sering berubah-ubah. Namun, sahut Agung, alangkah lebih baiknya jika para pelaku usaha jasa konstruksi pun pro-aktif untuk lebih memahami beragam regulasi baru.
 
Dia berpendapat bahwa korupsi dapat menjadi sebuah faktor penghambat pembangunan. Utamanya, seru dia, dalam hal melakukan persiapan ketersediaan sarana infrastruktur. “Tidak hanya korupsi, juga perlu adanya stabilitas politik, keamanan, dan kepastian hukum,” tegasnya.(ADR)
 

Related posts