Impor Gerus Produk TPT Lokal

  • Whatsapp

(ISTIMEWA)
(ISTIMEWA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Tingkat persaingan kian ketat seiring dengan perkembangan ekonomi global, yang satu diantaranya, berupa pasar bebas. Situasi itu pun terjadi pada sektor pertekstilan. Saat ini, daya saing komoditi tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri semakin berat karena banjirnya produk impor.
 
Sekretaris DPD Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat Kevin Hartanto mengakui bahwa saat ini, produk TPT Impor lebih diminati publik. Itu terjadi, jelasnya, karena harganya lebih murah daripada produk dalam negeri. Padahal, lanjut dia, secara kualitas, produk TPT dalam negeri masih lebih unggul.
 
Kevin mengatakan, kondisi itu membuat pasar TPT lokal tergerus oleh produk impor. Menurutnya, kini, produk lokal hanya menguasai sekitar 40-50 persen pasar TPT nasional. Melihat kondisi itu, tegas Kevin, pihaknya tetap optimistis dan memiliki harapan bahwa produk TPT lokal dapat bersaing.
 
Diutarakan, salah satu momen untuk menggenjot pasar lokal yaitu Ramadan dan Idul Fitri. Namun, sambung dia, bukan perkara mudah untuk menggenjot pasar lokal pada momen itu. Dasarnya, terang dia, mayoritas, konsumen TPT saat Ramadan dan Idulfitri yaitu kalangan menengah-bawah. Kalangan seperti ini lebih cenderung memperhatikan harga, bukan kualitas. Tentunya, lanjut dia, kondisi ini lebih menguntungkan produk impor, yang didominasi asal Cina, karena harganya lebih murah.
 
Tidak itu saja, momen Idul Fitri tahun ini dengan tahun ajaran baru. Perkiraannya, hal itu pun dapat membuat masyarakat lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Kevin menyatakan, produksi tekstil untuk Idul Fitri 2014 tidak terlalu banyak.
 
Indikatornya, tutur dia, pemesanan benang masih sepi. Idealnya, imbuh dia, sejak dua bulan silam, pemesanan benang meningkat “Yang terjadi, pemesanan benang justru tidak meningkat,” ujarnya.
 
Diutarakan, sejauh ini, industri tekstil Jabar terbagi dua orientasi, yaitu ekspor dan pasar domestik. Khusus pasar ekspor, sahut Kevin, tergolong stabil dan tidak mengalami kendala. Lain halnya dengan pasar lokal. 
 
Dia berpandangan, meski ada momen pemilihan presiden, Ramadan, dan Idul Fitri, pada tahun ini, pengusaha dan pelaku industri tekstil, kemungkinan besar, tidak terlalu menikmati keuntungan. “Ajang pilpres diharapkan pelaku industri tekstil menjadi momen meningkatnya penjualan. Ternyata, kenyataannya tidak sesuai harapan. Permintaan cenderung sepi,” ungkapnya. (ADR)

Related posts