Hakim Vonis Tinggi Dua Jaksa Penerima Suap

Dua jaksa Kejati Jabar, Fahri Nurmallo dan Devyanti Rochaeni mendengar vonis majelis hakim, di Ruang I Pengadilan Negeri Bandung, Rabu (23/11). (jabartoday/avila dwiputra)
Dua jaksa Kejati Jabar, Fahri Nurmallo dan Devyanti Rochaeni mendengar vonis majelis hakim, di Ruang I Pengadilan Negeri Bandung, Rabu (23/11). (jabartoday/avila dwiputra)

JABARTODAY.COM – BANDUNG Dinilai menerima suap, dua jaksa yang pernah berdinas di Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, dijatuhi hukuman penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bandung, Rabu (23/11), majelis hakim yang diketuai Longser Sormin menganggap Fahri Nurmallo dan Devyanti Rochaeni bersalah karena menerima suap pengurusan perkara korupsi BPJS Kabupaten Subang.

Karena itu, hakim menjatuhkan vonis 7 tahun penjara kepada Fahri, dan 4 tahun kepada Devyanti. Keduanya dianggap melanggar tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 12 huruf a dan Pasal 11 UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo. Pasal 65 ayat (1) KUHP.

“Menjatuhkan pidana penjara kepada Fahri Nurmallo selama tujuh tahun, serta denda Rp 300 juta, yang bila tidak dibayar, diganti dengan kurungan empat bulan. Dan, pidana penjara kepada Devyanti Rochaeni selama, serta denda Rp 300 juta, yang bila tidak dibayar, diganti dengan kurungan empat bulan,” ujar Longser, dalam amar putusannya, di Ruang I PN Bandung.

Hal yang memberatkan, perbuatan kedua terdakwa tidak mendukung program pemberantasan korupsi, dan menciderai korps penegak hukum, dalam hal ini kejaksaan. Sementara, untuk yang meringankan, kedua terdakwa berlaku sopan selama persidangan, mengakui dan menyesali perbuatannya, dan belum pernah dihukum.

Majelis hakim dalam uraiannya menyatakan, terdakwa Fahri Nurmallo dan Deviyanti Rochaeni pada 31 Maret dan 11 April 2016 bertempat di Kantor Kejati Jabar telah menerima uang Rp 200 juta dari Jajang Abdul Kholik dan Ojang Suhandi melalui Lenih Marliani. Selain itu, juga menerima uang sebesar Rp100 juta dari Budi Subiantoro melalui Kristanto Wibowo. “Padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji itu diberikan untuk. Menggerakan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya,” katanya.

Menurutnya, saat itu, Fahri dan Devyanti patut diduga menerima uang senilai Rp 300 juta untuk meringankan tuntutan terhadap Jajang Abdul Kholik dan Budi Subianto dalam kasus korupsi penyalahgunaan anggaran pengelolaan dana kapitasi dan program Jamkesnas Ta 2014 di Dinkes Subang.

Vonis ini lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi, yang meminta Fahri Nurmallo dijatuhkan hukuman 9 tahun penjara. Dan Devyanti Rochaeni, selama 5 tahun penjara. Terhadap putusan tersebut, baik jaksa maupun terdakwa, mengajukan pikir-pikir selama 7 hari untuk mengambil langkah hukum selanjutnya. (vil)

Related posts