Tahun Depan, BJB Siap Dongkrak Kredit 17 Persen

Bank BJB
Bank BJB

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Tahun depan, sepertinya, tingkat persaingan pada sektor jasa keuangan, khususnya, perbankan, semakin ketat. Itu terjadi karena adanya beberapa hal. Di antaranya, putusan Bank Indonesia (BI) yang melakukan penyesuaian suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 7,75 persen.

Kondisi itu berpotensi besar membuat lembaga-lembaga perbankan, baik swasta, BUMN, BUMD, juga melakukan penyesuaian tingkat suku bunganya, baik pendanaan maupun pembiayaan. Ketatnya persaingan pun juga disebabkan pada 2015 akhir, berguliragenda kerjasama ekonomi negara-negara ASEAN alias ASEAN Economic Community (AEC), meski sebenarnya, bagi perbankan, agenda tersebut baru berlangsung pada 2020.

Adanya berbagai perkembangan tersebut, PT Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten TBk alias bank bjb, fokus pada trasnformasi bisnis. “Tujuannya, supaya kami lebih concern pada terciptanya pertumbuhan yang berkelanjutan yang terimplementasikan dalam berbagai kebijakan strategis jangka panjang,” tandas Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko bank bjb, Zaenal Aripin, belum lama ini.

Zaenal meneruskan, kebijakan strategis yang diusung lembaga perbankan milik BUMD Jabar-Banten itu antara lain lebih memperkokoh fundemental bank. Hal itu, jelasnya, sebagai sebuah fondasi yang kuat guna meraih hasil dan kinerja bisnis yang terus bertumbuh dan lebih baik.

Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadi opsi bank bjb dalam mengimplementasikan kebijakan strategis tersebut. Yaitu, sebutnya, meningkatkan pangsa pasar dana pihak ketiga (DPK). Lalu, tambah dia, mendongkrak kualitas dan penyaluran kredit. “Juga berusaha melakukan pemenuhan permodalan dan pengembangan fungsi untuk mendukung profitabilitas,” tukasnya.

Direktur Komersil bank bjb, Ahmad Irvan, mengimbuhkan, walau terjadi berbagai perkembangan kondisi, pada 2015, jajarannya tetap memproyeksikan pertumbuhan kinerja bisnis. Untuk asset, tegas dia, pada 2015, pihaknya menargetkan terjadinya pertumbuhan 13 persen. “Begitu pula dengan kredit, kami proyeksikan 17 persen, DPK sebesar 15 persen, dan LDR (Loan to Deposit) menjadi 89-90 persen,” cetus Irvan.

Pihaknya, jelas dia, menetapkan proyeksi itu guna memperkokoh permodalannya. Pihaknya, aku Irvan, memang, tidak tertutup kemungkinan menggulirkan right issues guna memperkuat permodalan. Akan tetapi, hal itu, terang dia, bergantung pada kondisi dan perkembangannya.

Dia berpendapat, jika melihat perkembangan terkini, pada 2015, pihaknya belum berencana untuk melakukan right issues. Kemungkinan besar, sahut dia, right issues baru bergulir pada tahun berikutnya. “Itu pun bergantung pada perkembangan kondisi,” tutup Irvan. (ADR)

Related posts