Rachmat Gobel: “Prioritaskan Standardisasi Produk”

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Memperhatikan hak-hak konsumen menjadi sebuah kewajiban bagi para produsen dalam memproduksi serta memperjualbelikan produk-produknya. Itu karena konsumen memperoleh perlindungan seiring dengan adanya Undang Undang Perlindungan Konsumen.

Melihat kondisi itu, Menteri Perdagangan Kabinet Kerja Presiden Republik Indonesia (RI) ke-7, Rachmat Gobel, menegaskan, para pelaku industri sudah saatnya memproduksi komoditi-komoditi berkonsep perlindungan bagi konsumen. Seperti, jelasnya, memperhatikan kesehatan, keselamatan, dan keamanan konsumen. “Itu semua dapat menambah daya saing produk nasional pada era pasar bebas. Terlebih, tahun depan, Indonesia terlibat dalam ajang AEC (ASEAN Economic Community),” tandas Rachmat Gobel, pada Temu Pelanggan Metrologi 2014 di Bandung, Rabu (26/11).

Menurutnya, agar lebih memberi perlindungan sekaligus memperhatikan kesehatan, keselamatan, dan keamanan konsumen, standardisasi produk dan perlindungan konsumen mutlak menjadi komitmen kuat. Diutarakan, ketika pasar bebas bergulir, termasuk AEC 2015, setiap negara pastinya mengantungi jurus-jurus jitu dan berbagai kebijakan guna melindungi masing-masing produknya. Perlindungan itu, jelasnya, tidak hanya pada produk, tetapi juga pelaku usaha dan industri, termasuk konsumennya, baik dalam hal kesehatan, keselamatan, maupun keamanan.

“Tanpa standarisasi produk dan disertai oleh adanya komitmen kuat memberi perlindungan sekaligus memperhatikan kesehatan, keselamatan, dan keamanan konsumennya, sebuah produk berpotensi besar kehilangan daya saing,” papar Rachmat Gobel.

Berkenaan dengan standardisasi produk, Rachmat Gobel tidak membantah bahwa hingga kini, banyak hal yang harus mendapat pembenahan dan perhatian bersama. Di antaranya, para pelaku usaha dan industri sebaiknya lebih memahami filosofi produknya. Selain itu, tambah dia, pelaku usaha dan industri pun wajib memiliki tanggung jawab sosial bagi konsumen. “Tidak itu saja, pelaku usaha dan industri pun harus aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada publik, yang tentunya, berkaitan dengan hak-hak konsumen,” tuturnya.

Dicontohkan, saat ini, banyak beredar produk impor mainan anak-anak berharga murah. Sayangnya, dalam penggunaan bahan bakunya, produsennya kurang memperhatikan hak konsumen. Misalnya, terang dia, bahan bakunya mengandung zat berbahaya yang berefek negatif bagi anak-anak dalam jangka panjang  jika berada dalam suhu tertentu.

Karenanya, tegas Rachmat Gobel, perlu adanya perubahan strategi dalam hal sosialisasi dan promosi produk. Intinya, sahut dia, bentuknya tidak hanya gencara pada perkenalan produk tetapi, lebih pada filosofi produknya.  (ADR)

Related posts