Peredaran Uang Tunai Terlalu Besar

Seorang warga menukar uang di teller bank. (DOK JABARTODAY.COM)
Seorang warga menukar uang di teller bank. (DOK JABARTODAY.COM)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Mungkin, tidak banyak yang tahu bahwa peredaran uang tunai (cash flow) di negara ini bernilai begitu besar. Perkiraannya, angka peredaran uang tunai di Indonesia, termasuk Jawa Barat, secara total mencapai triliunan rupiah.
 
“Kami kira, peredaran uang tunai terlalu besar dan tidak ideal. Ini dapat berpotensi terjadinya beragam kecurangan. Misalnya, pemalsuan uang, pencucian uang, dan lainnya,” tukas Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Kamar Dagang dan Industri Jawa Barat, Rudi Rakian, belum lama ini.
 
Rudi memprediksi, saat ini, nilai peredaran uang tunai di Indonesia melebihi angka Rp 400 triliun. Dia berpendapat, jika perbandingannya dengan jumlah penduduk di negara ini, angka tersebut tidak ideal. Jika mengacu pada jumlah penduduk, kata Rudi, idealnya, peredaran uang tunai tidak melebihi Rp 200 triliun.
 
Melihat kondisi itu, Rudi berpandangan, perlu upaya-upaya untuk menekan peredaran uang tunai agar potensi kecurangan tersebut terminimalisir. Satu di antaranya, saran Rudi, menggencarkan sosialisasi mengenai sistem transaksi non-tunai. Langkah itulah, ungkap Rudi, yang terus digemakan dan digencarkan Kadin Jabar. “Utamanya, pada pasar-pasar tradisional, termasuk beragam ajang pameran, yang khususnya, bergulir di Jabar,” tutur Rudi.
 
Menurutnya, upaya-upaya menggencarkan sosialisasi sistem transaksi non-tunai tersebut menjadi sebuah strategi untuk menekan transaksi tunai sekaligus menekan potensi beragam kecurangan. Sebagai contoh, ucap dia, peredaran uang palsu, yang perkiraannya, cukup kerap terjadi pada sejumlah ajang pameran. “Terlebih di pasar-pasar tradisional. Di lokasi itu, kerap ada temuan peredaran uang palsu,” sambungnya.
 
Untuk itu, pihaknya meminta lembaga-lembaga yang berkaitan dengan sistem transaksi non-tunai untuk memfasilitasi gerai atau tempat pembayaran terpadu bersistem transaksi non-tunai. Sejauh ini, dia memaparkan, jajarannya menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga perbankan untuk lebih menggalakan pembayaran atau transaksi non-tunai.
 
Terlebih, seru dia, peredaran uang tunai dapat berpotensi lebih banyak lagi beredar saat Masyarakat Ekonomi Asean bergulir akhir 2015 mendatang. Pasalnya, jelas dia, total populasi negara-negara ASEAN mencapai 660 juta orang. Apabila peredaran uang tunai makin tinggi, potensi kecurangan kian terbuka. “Jadi, sosialisasi transaksi non-tunai sebaiknya lebih gencar,” tutupnya. (ADR)

Related posts