Sunday , 31 May 2020
Home » Bandung Raya » Penyempitan Makna Kebudayaan Jangan Menggerus Identitas Kesundaan

Penyempitan Makna Kebudayaan Jangan Menggerus Identitas Kesundaan

Kepala Bidang Produk Seni Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Sigit Iskandar

JABARTODAY.COM – BANDUNG Kepala Bidang Produk Seni Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Sigit Iskandar menilai, ada penyempitan makna arti dari kebudayaan. Dia mendapati pengertian bahwa kebudayaan hanya sebatas penampilan dan tontonan dari sebuah seni tradisi.

“Kebudayaan tidak hanya sebatas penampilan seni budaya tradisi, melainkan didalamnya ada perkembangan adat dan pemikiran manusia dalam mengimbangi kemajuan jaman,” ujar Sigit, disela rapat kerja dengan Komisi D, di Gedung DPRD Kota Bandung, Rabu (15/1).

Menurut Sigit, perkembangan seni budaya Sunda di Kota Bandung, memasuki era yang berbeda. Pelestarian dan pengembangan budaya Sunda kiwari, meski tak keluar dari akarnya, namun memiliki unsur seni budaya yang lebih modern. Ini adalah salah satu perkembangan budaya yang harus dijaga karena berbeda dengan tempat lainnya di Jawa Barat.

“Sepatutnya kita tetap menjaga akar budaya sunda. Meski memasukan unsur budaya luar dalam meracik seni budaya tradisi tetapi kita tidak bokeh menghilangkan identitas kita sebagai orang Sunda,” tegasnya.

Mantan Kepala Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Kesbangol Kota Bandung ini berharap semua pihak dapat menjaga budaya kita sendiri. “Jaman boleh berubah tapi kita jangan tergerus oleh jaman”.

Saat berbicara program Barata (Bandung Rasana Nyata), Sigit menekankan kepada penggiat seni budaya atau lingkung seni untuk tidak cepat terpengaruh dengan budaya-budaya asing yang begitu mudah masuk ke Kota Bandung.

“Budaya Bandung akarnya adalah budaya Sunda. Maka, melihat kebudayaan di Bandung tidak hanya sebatas pada pagelaran seni budaya tradisi maupun adat istiadat saja, melainkan bagaimana kita mampu menggali roh seni budaya tersebut dalam berkehidupan sehari-hari,” papar Sigit.

Poin pentingnya, lanjut dia, seluruh lapisan masyarakat, terutama pelaku seni budaya, bisa menjaga identitas kesundaan dan tidak mudah terkooptasi budaya asing, tanpa ada penyaringan. (edi)