Mantan Hakim Menangis Saat Mendengar Tuntutan

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Sebagai seorang penegak hukum, seyogianya, seorang hakim dapat menjadi panutan dan tidak melakukan beragam hal yang melanggar hukum. Misalnya, melakukan korupsi atau menerima suap. Namun, apa yang dilakukan mantan Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Jabar, Pasti Serefina Sinaga, tidaklah menjadi panutan.

Pasalnya, Pasti harus siap menjalani hukuman yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantassa Korupsi (KPK) dalam persidangan yang bergulir di Ruang I Pengadilan Negeri Bandung, belum lama ini, berupa penjara selama 11 tahun. Jaksa menilai Pasti melanggar Pasal 12 huruf c UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 jo Pasal 55 KHUP. Tuduhannya, Pasti menerima suap pengurusan banding progran Dana Bantuan Sosial (Bansos) Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung Tahun Anggaran 2009-2010.

“Kami meminta majelis hakum menyatakan terdakwa bersalah seperti yang tercantum pada dakwaan primair. Kami pun meminta majelis supaya menjatuhkan hukuman selama 11 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsidair 6 bulan penjara,” tandas JPU Ali Fikri saat membacakan tuntutannya di depan majelis hakim yang diketuai Barita Lumbang Gaol tersebut.

Dalam dakwaannya, Pasti Sinaga, menerima suap bernilai Rp 500 juta. Selain itu Pasti Sinaga pun menerima fasilitas surat izin persetujuan peningkatan kelas Hotel Bumi Asih, yang semula bintang dua menjadi bintang tiga. Kuat dugaan, pemberian uang suap dan fasilitas itu berkaitan dengan penanganan perkara banding pada level Pengaadilan Tinggi Jabar.

Berdasarkan dakwaan, suap yang diterima Pasti Sinaga diberikan Walikota Bandung periode sebelumnya, yang kini, menghuni Lapas Sukamiskin, Dada Rosada, melalui Toto Hutagalung, pada medio Februari-Maret 2013. Lokasi pemberian uang suap itu di Hotel Bumi Asih Jaya, yang merupakan milik keluarga Serefina. Perkara Pasti Sinaga juga berkaitan dengan kasus eks Wakil Ketua PN Bandung, Setyabudi Tedjocahyono, yang kini, menjalani vonis hukuman penjara selama 13 tahun.

JPU menilai ada beberapa hal yang memberatkan terdakwa. Yaitu, jelasnya, terdakwa merupakan sosok penegak hukum. Ulah terdakwa mencederai lembaga peradilan dan tidak mendukung negara melakukan pemberantasan korupsi. Selain itu, lanjutnya, saat memberi keterangan, pihaknya menganggap terdakwa berbelit-belit dan merasa tidak bersalah. “Ada pun yang meringankan adalah terdakwa belum pernah menjalani hukuman pidana dan berusia lanjut,” katanya.

Tidak berapa lama, setelah pembacaan tuntutan, Pasti tersedu-sedu. Pasti menitikkan air mata. Pasti pun mengajukan nota pembelaan, yang rencananya, pembacaannya berlangsung pada Selasa (13/1). (ADR)

Related posts