Melambat, Kinerja Properti Tahun Ini

jabartoday.com/web
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Terbitnya berbagai putusan berkenaan dengan kenaikan sejumlah komponen vital, yaitu tarif dasar listrik (TDL) serta elpiji 12 kilogram, termasuk bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjadi Rp 8.500 per liter, meski akhirnya, kembali turun dan kini bernilai Rp 7.600 per liter, kondisi itu menjadi pemicu terjadinya pelemahan daya beli masyarakat.

Tentunya, pelemahan daya beli tersebut berefek pada sektor dunia usaha. Satu di antaranya adalah sektor properti. Hal itu tidak dibantah oleh kalangan pengembang yang tergabung dalam DPD Real Estat Indonesia (REI) Jabar. Menurutnya, pelemahan daya beli masyarakat itu dapat berefek pada kinerja penjualan properti, khususnya, di Jabar.

“Kami kira, pada enam bulan pertama tahun ini, kinerja penjualan khususnya, sektor properti, mengalami perlambatan, yang sebenarnya, terlihat sejak akhir tahun lalu. Melemahnya daya beli masyarakat berpotensi membuat perlambatan penjualan berlanjut hingga semester perdana 2015,” tandas Ketua DPD REI Jabar, Irfan Firmansyah, belum lama ini.

Putra mendiang mantan Ketua DPD REI Jabar, Uci Sanusi, tersebut berpendapat, melambatnya kinerja penjualan tersebut dapat terjadi pada semua lini properti. Utamanya, sambung dia, pada segmen komersial dan residensial.

Irfan berpandangan, selain melemahnya daya beli masyarakat, ada beberapa hal yang menyebabkan kinerja penjualan melambat. Antara lain, sebut dia, naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate. Dijelaskan, kenaikan BI Rate membuat suku bunga kredit pun meninggi. Akibatnya, sambungnya, konsumen memilih opsi untuk menunda pembelian properti.

Faktor lain, ucap dia, kenaikan harga jual bahan baku sebagai efek naiknya harga jual BBM subsidi, walaupun pada awal 2015, pemerintah menurunkan harga jual komoditi tersebut. Akan tettapi, sambung dia, harga jual bahan baku tidak. Situasi tersebut, ucap dia, mendorong para pengembang untuk menaikkan harga jual properti. Kenaikannya, sebut dia, pada level 5-10 persen. “Tapi, kami optimis, memasuki semester II 2015, kondisinya lebih baik,” tutup Irfan. (ADR)

Related posts