Lima Tahun, Klaim Jasa Raharja Dekati Rp 1 Triliun

jasa raharjaJABARTODAY.COM – BANDUNG
Sebagai sebuah Badan Usaha Milik Negara yang berdasarkan undang-undang berfungsi sebagai lembaga asuransi kecelakan bagi masyarakat, PT Jasa Raharja (Persero), salah satu tugas dan kewajibannya, menyalurkan dana santunan kecelakaan. Di Jawa Barat, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, atau sejak 2009 sampai September 2014, nilai klaim yang disalurkan PT Jasa Raharja bagi para korban kecelakaan yang mengalami luka-luka, maupun ahli waris korban kecelakaan yang meninggal dunia, begitu besar.
 
“Nilai klaim yang kami salurkan sejak 2009 sampai September 2014 angkanya besar, hampir mendekati Rp 1 triliun,” ujar Kepala PT Jasa Raharja Cabang Jabar, Edy Supriadi, di PT Jasa Raharja Cabang Jabar, Senin (6/10/2014).
 
Pada periode Januari-September 2014, ungkapnya, nilai santunan mencapai Rp 125,5 miliar. Nilai klaim tertinggi, sambung dia, adalah bagi ahli waris korban meninggal dunia. Angkanya, sebut dia, sebesar Rp 89,56 miliar. “Tertinggi kedua yaitu santunan bagi korban luka-luka. Nilainya Rp 34,44 miliar. Selanjutnya, klaim bagi korban kecelakaan yang mengalami cacat tetap, yaitu Rp 1,40 miliar. Sedangkan santunan terkecil yaitu santunan biaya penguburan, sejumlah Rp 114 juta,” papar Edy.
 
Berdasarkan data, pemberian santunan tertinggi dalam lima tahun terakhir terjadi pada 2011. Pada saat itu, total santunan kecelakaan di Jabar mencapai Rp 214, 53 miliar. Santunan terbesar kedua terjadi pada 2010, yaitu, tuturnya, Rp 195,04 miliar. Angka itu, terang dia, sedikit lebih tinggi daripada santunan 2009, yang nilainya Rp 192,94 miliar. “Sementara pada 2013, nilai santunan sebesar Rp 192,57 miliar,” kata dia.
 
Jika memperhatikan penyaluran santunan dalam dua tahun terakhir, yaitu 2012-2013, Edy menyatakan, pihaknya berharap, pada tahun ini, angka kecelakaan turun. Dia menampik bahwa jika angka kecelakaan turun, pihaknya dapat meraup untung. “Maksudnya bukan seperti itu. Harapan turun itu, karena kami tidak ingin masyarakat yang menjadi korban kecelakaan, kondisi ekonominya merosot. Dana yang kami kelola, bukan milik kami, melainkan milik publik,” tutup dia.  (ADR)

Related posts