Kuasa Hukum dan PU KPK Beberkan Penyebab Dadang Suganda Kaya Raya, Apa Itu?

  • Whatsapp

JABARTODAY.COM – BANDUNG Menjadi kaya memang tidak didapatkan dengan mudah. Perlu usaha dan kerja keras untuk meraihnya. Bahkan tak sedikit menghabiskan waktu.

Contohnya adalah H. Dadang Suganda. Terbukti, kini pengusaha asal Bandung itu memiliki kekayaan mencapai miliaran rupiah.

Oleh karena itu, menjadi kaya raya bisa diraih oleh siapapun asal mau terus berusaha, bekerja dan tentu saja pantang menyerah.

Terdakwa dugaan tindak pidana korupsi dan pencucian uang, proyek pengadaan lahan ruang terbuka hijau (RTH) Kota Bandung, Dadang Suganda, sebelumnya memang sudah kaya. Dengan meraih keuntungan besar dari proyek lahan RTH menjadi semakin kaya.

“Apanya yang salah bisnis jual beli tanah lewat proyek RTH, beri keuntungan besar. Pak Haji Dadang bertambah kaya. Memang awalnya juga sudah kaya raya,” kata kuasa hukum Dadang Suganda, Anwar Djamaludin, usai persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Selasa (2/2/2021) malam.

Baca Juga

Senada dengan Anwar, koordinator penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi, Haerudin membenarkan, terdakwa Dadang Suganda memang sebelum ada perkara hukum di lembaga antirasuah ini merupakan orang yang sudah kaya.

“Dia (Dadang) orang kaya, dengan keuntungan dari jual beli lahan RTH Kota Bandung semakin kaya. Kekayaannya melejit pada akhir tahun 2012,” ungkap Haerudin.

Sebelumnya, dalam sidang lanjutan dugaan korupsi dan TPPU RTH Kota Bandung yang kembali digelar Selasa kemarin. Sejumlah saksi dihadirkan, yakni Nena Prachwati dari bank bjb, Hendrawati mantan teller Bank Bukopin Bandung, Renty Ramayanti dari Bank Bukopin Bandung, Yudi Winaya Yogapranata dari Bank BRI Cabang Bandung Naripan, Cherryya Agustina Marketing dari Bank BRI Cabang Bandung Naripan, Renty Ramayanti (Bukopin) dan Liem Antonius dari Legal Bank BCA Pusat.

Dalam persidangan tersebut, penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi berusaha mengungkap berbagai modus terdakwa dalam dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Salah satu modus yang diungkap kemarin ialah pencucian uang yang dilakukan terdakwa melalui transfer antar rekening bank dengan menggunakan nama lain (Abdurahman dan Toyib).

PU KPK mau membuktikan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang dilakukan terdakwa Dadang Suganda mengaburkan asal-usul uang di rekening hasil dari korupsi RTH.

Modus ini dilakukan terdakwa dengan memindah-mindahkan uang kepada beberapa orang lainnya. Nilainya sangat besar mencapai miliaran rupiah, salah satunya melalui rekening di Bank Bukopin.

Kuasa hukum terdakwa keberatan dengan langkah PU KPK tersebut. Terutama saat meminta keterangan dari saksi Renty Ramayanti yang dilakukan via telekonferensi dalam kapasitasnya sebagai teller Bank Bukopin.

“Tidak pada kapasitasnya menjelaskan mekanisme transaksi keuangan. Karena saksi sudah bukan lagi karyawan Bank Bukopin. Berbeda dengan keterangan Nena Prachwati. Dia officer yang bisa menjelaskan semua proses di bank bjb,” ujar Anwar.

Selanjutnya Anwar menilai keterangan para saksi yang dihadirkan oleh PU KPK tidak menggambarkan ada tindakan melawan hukum dari terdakwa. Pasalnya para saksi mengenal terdakwa karena disodorkan dan diperkenalkan oleh penyidik KPK.,

“Keterangan para saksi menjelaskan bahwa terdakwa adalah seorang pengusaha. Dia pengusaha sukses jauh sebelum ada proyek RTH. Baik di bank bjb, Bank BCA, Bank BRI, Bank Mandiri menunjukkannya sebagai nasabah yang memiliki prioritas. Tetapi dengan adanya uang masuk dari RTH terutama di bank bjb, dari hasil program-program yang ada di DPKAD Kota Bandung, dilihat dari sisi rekening  sudah bercampur antara uang dari RTH dengan uang  pribadi,” papar Anwar.

Fakta persidangan lain yang terungkap dari keterangan saksi Cherryya Agustina (BRI), misalnya ada nego-nego tentang bunga untuk simpanan uang sebesar satu miliar. Apalagi lima puluh miliar, rate-nya bisa dinegosiasi. Kalau tidak cocok bisa lari ke bank lain.  Dan itu semua urusan marketing.

Sementara dari saksi Hendarwati (Bukopin) mengungkap ada sistem yang mirip dengan dijelaskan itu. (*)

Related posts