Husin Yazid Nilai Fenomena Pilkada Jakarta Berbeda dengan Jawa Barat

JABARTODAY.COM – JAKARTA

Fenomena pertarungan politik dalam Pilkada DKI Jakarta tidaklah sama dengan suasana yang akan terjadi nanti dalam Pilkada di Jawa Barat, karena keduanya memiliki beberapa karakteristik yang berbeda secara prinsipil.

Pendapat itu disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pembangunan Strategis (Puskaptis) Husin Yazid, menanggapi pendapat yang memandang bahwa fenomena Pilkada Jakarta bisa terjadi di Jawa Barat.

“Pendapat bahwa fenomena Pilkada Jakarta akan terjadi juga di Jawa Barat, saya rasa kurang tepat. Sebab kedua wilayah itu memiliki karakteristik yang sama sekali berbeda secara prinsipil,” jelas Husin Yazid, di Jakarta, Kamis.

Husin menjelaskan,  dari aspek  keberadaan etnis, Jawa Barat terlihat lebih homogen, sedangkan Jakarta sangatlah heterogen. Di Jawa Barat, etnis yang mendominasi adalah suku Sunda sedangkan suku lainnya tersebar melengkapi saja. Apalagi dari aspek agama, Jawa Barat, tambah pria murah senyum ini Islam menjadi agama mayoritas dari penduduknya.

“Dari aspek kebudayaan pun, budaya Sunda  mendominasi kehidupan masyarakatnya. Jadi seluruh karakteristik empirik ini akan berpengaruh terhadap dinamika politik di Jawa Barat,” tangkasnya.

Selain itu, dari aspek geografis, Jawa Barat  amat berbeda dengan Jakarta. Di Jawa Barat, terdapat 26 kabupaten dan kota. Penduduknya sekitar 48 jutaan dengan jumlah pemilih sekitar 40 jutaan.

“Posisi geografis Jawa Barat ini begitu luas, tentu memerlukan sebuah mesin politik yang kuat dari sisi jaringan, baik partai, maupun jejaring lainnya, seperti relawan dan LSM. Dan itu butuh dana yang kuat,” jelasnya.

Melihat berbagai realitas politik itu, ia menyarankan agar partai politik  harus selektif dalam  menentukan calon yang akan diusungnya. “Jangan serta-merta gaya politik di Jakarta, dicontoh bulat-bulat di Jawa Barat, sebab konteksnya sangat berbeda,” cetusnya meyakinkan.

Menurutnya, calon yang mempunyai peluang menang di Jawa Barat itu adalah orang yang dari sisi popularitas memang cukup tinggi. Mereka  juga mesti punya kompetensi, integritas, dan pengalaman.

“Karena itu, bila ada tokoh yang popularitasnya belum tinggi, riskan juga. Minimal popularitas itu 65 persen. Sebab tingginya popularitas belum tentu berbanding lurus dengan tingkat kesukaan apalagi, tingkat elektabilitas,” ujarnya. [far]

Related posts