Denda Maksimal Tak Pakai Masker di Kota Bandung Rp500 Ribu

  • Whatsapp
Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung
Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung (Foto: Humas Bandung)

JABARTODAY.COM, BANDUNG — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengingatkan warganya yang tidak memakai masker saat keluar rumah bisa kena kena sanksi denda maksimal Rp500 ribu.

Kewajiban menggunakan masker diingatkan kembali Wakil Wali Kota Bandung yang juga Ketua Tim Gugus Tugas Percepatanan Penanganan (GTTP) Covid-19 Kota Bandung, Yana Mulayana, Rabu (5 Agustus 2020). saat mengunjungi Pasar Cihapit.

Yana menyosialisasikan aturan terbaru tentang Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) sesuai Peraturan Wali Kota (Perwal) No. 43 Tahun 2020 tentang AKB.

Yana mengedukasi para pedagang dan pembeli di Pasar Cihapit sekaligus mengingatkan pertahanan paling dasar untuk menjaga standarisasi protokol kesehatan adalah senantiasa menggunakan masker.

Menurutnya, penerapan sanksi dalam aturan baru ini diutamakan untuk memberikan efek jera dalam menjaga kedisiplinan standarisasi protokol kesehatan.

Baca Juga

“Karena memang salah satu poin perubahan perwal ini soal pengenaan sanksi, ada sanksi ringan, sanksi sedang, sanksi berat. Penekananannya pada penggunaan masker,” ujar Yana dirilis laman Humas Kota Bandung.

Yana mengungkapkan, Perwal No. 43 tentang AKB tertera sanksi terberat berupa denda. Minimal denda yang diberlakukan sebesar Rp100.000 dan maksimal Rp500.000 bagi yang melanggar aturan.

Yana berharap, penerapan sanksi di Kota Bandung hanya cukup dengan sanksi sosial guna memberikan efek jera kepada pelanggar. Hukuman sosial ini bisa diterapkan kepada pelanggar tanpa harus memandang kemampuan ekonomi ataupun pertimbangan kondisi fisik.

“Intinya sanksi itu kita akan berikan agar berdampak efek jera, bukan beratnya sanksi atau denda. Mudah-mudahan dengan sanksi ringan atau sanksi sosial orang sudah ada efek jera ya sudah cukup,” katanya.

Sanksi denda, lanjut Yana, paling akhir karena denda itu relatif.

“Tapi kalau sanksi sosial tua muda atau kaya miskin bisa melakukan, kalau denda bisa jadi yang kaya itu menggampangkan, jadinya ya udah mending bayar denda aja,” imbuhnya.

Sebagai seorang discarded atau penyintas yang berhasil sembuh dari Covid-19, Yana juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyepelekan standarisasi protokol kesehatan.

“Titik utamanya harus kesehatan dulu. Saat ini kita sudah relaksasi beberapa kegiatan dengan hati-hati. Karena tetap ada penerapan standar protokol kesehatan. Itu jadi persyaratan utama. Supaya jangan smapai relaksai bidang tertentu jadi satu klaster baru, itu yang cukup jadi bahaya,” katanya. (JT)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *