BBM Naik, Biaya Operasional Melejit

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Masyarakat di negara ini kembali harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Pasalnya, Senin (17/11), pemerintah positif menerbitkan putusan mengenai kenaikan harga jual bahan bakar minyak (BBM) subsidi, mulai Selasa (18/11) pukul 00.00. Berdasarkan putusan itu, harga jual premium menjadi Rp 8.500 per liter atau naik Rp 2.000 per liter. Sedangkan solar subsidi, menjadi Rp 7.500 per liter, juga naik Rp 2.000 per liter.

Tentu saja, putusan itu dapat berefek pada sektor dunia usaha dan industri. Naiknya harga jual BBM tersebut menyebabkan biaya operasional industri dan dunia usaha pun naik, yaitu terdapat pada biaya pendistribusian dan logistik.

“Kenaikan harga BBM subsidi pasti menimbulkan inflasi. Biaya operasional pun naik. Ketika kenaikan BBM subsidi sebelumnya, yaitu yang semula Rp 4.500 per liter menjadi Rp 6.500 per liter, biaya operasional naik 1,7 persen. Kali ini, biaya operasional naik sekitar 1,5 persen,” tandas Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jabar, Dedy Widjaja, Selasa (18/11).

Menurutnya, kenaikan harga BBM tersebut pastinya mendorong naiknya harga berbagai barang, termasuk bahan baku produksi. Otomatis, kata Dedy, dunia usaha dan industri menaikkan harga jual barangnya. Namun, kata Dedy, jangan selalu menilai terjadinya inflasi akibat naiknya BBM subsidi sebagai hal yang negatif. Dia berpendapat, inflasi dapat menjadi perangsang pertumbuhan ekonomi.

Mengenai kondisi pasar pasca kenaikan harga BBM subsidi, Dedy mengungkapkan, sebenarnya, sebelum harga BBM subsidi naik, kondisi pasar cenderung lebih sepi daripada sebelum-sebelumnya. Pasalnya, kilah Dedy, pembeli tidak jor-joran berbelanja.

Dedy meneruskan, untuk menjaga kelangsungan, dunia usaha dan industri melakukan berbagai upaya berkenaan dengan kenaikan BBM subsidi. Di antaranya, jelas dia, sedikit menekan angka produksi. Meski begitu, kata Dedy, hal tersebut tidak membuat dunia usaha dan industri merugi. Itu karena, jelas dia, harga jual barang mengalami kenaikan.

Berkenaan dengan ada tidaknya industri yang terancam kebangkrutan karena kenaikan harga BBM subsidi, Dedy menegaskan, sejauh ini, belum ada laporannya. Dia menyatakan, sebenarnya, kenaikan harga BBM subsidi sudah menjadi perhitungan para pelaku usaha dan industri. (ADR)

Related posts