Tes Psikologi dan Barak Militer: Jalan Panjang Menyandang Selempang

Gravatar Image

Ageng Sutrisno Wisanggeni Wicaksono
Jajaka Pinilih Kuningan 2012
Ditulis untuk Pasanggiri Mojang Jajaka Jawa Barat 2025

Kuningan, suatu pagi yang basah. Hujan turun perlahan di lereng Ciremai, menyapu atap rumah-rumah tua yang masih setia berdiri di antara kabut dan kenangan. Jalanan tampak lengang, tapi di balik jendela-jendela yang berkabut, ada banyak percakapan sunyi tentang masa lalu dan masa depan. Di tengah tempias yang jatuh perlahan, suara kenangan dari tahun 2012 kembali menggema. Waktu pertama kali mengenakan baju pangsi, berdiri tegap sebagai Jajaka Pinilih Kuningan tahun 2012, saya tidak tahu bahwa perjalanan itu akan mengubah cara saya memandang panggung, peran, dan kehidupan. Sebab, menjadi seorang nonoman panutan dengan menyandang gelar mojang atau jajaka bukan hanya tentang selempang dan senyum menawan, tapi tentang bagaimana kita menampilkan wajah masyarakat kita kepada dunia tanpa kehilangan akarnya.

Setelah, lebih dari satu dekade berlalu, Saya memandang Moka dari kejauhan, dari hati yang paling dalam, izinkan saya jujur ada kegelisahan yang tumbuh perlahan. Tentang kemurnian nilai. Tentang integritas budaya. Tentang siapa yang sebenarnya sedang kita kirimkan untuk mewakili wajah masyarakat Sunda.

Ini Bukan Soal Siapa Menang, Tapi Siapa Mewakili
Pasanggiri Moka sejatinya bukan ajang perlombaan biasa. Ia adalah ruang sakral di mana kita memilih duta budaya. Mereka yang akan berdiri mewakili wajah masyarakat di depan publik, menjadi contoh, menjadi rujukan, menjadi simbol. Maka, standar yang kita terapkan tidak boleh hanya soal kemampuan berbicara atau penampilan luar. Harus lebih dalam. Harus menyentuh akarnya: karakter, moralitas, dan kesesuaian dengan nilai-nilai masyarakat yang diwakilinya.

Itulah mengapa saya mengusulkan bukan sekadar untuk polemik, tapi untuk kebaikan bersama agar panitia mempertimbangkan dua hal penting dalam seleksi Moka ke depan: (1) Psikotes mendalam yang mencakup orientasi seksual dan integritas kepribadian; (2) Karantina semi-militer untuk melatih disiplin, tanggung jawab, dan ketahanan mental.

Kenapa Harus Ada Psikotes tentang Orientasi Seksual?
Karena kita tidak sedang memilih siapa yang paling menarik, tapi siapa yang paling layak mewakili nilai. Dalam konteks sosial dan budaya masyarakat Sunda, posisi seorang mojang atau jajaka bukanlah tokoh netral. Ia adalah figur moral. Ia adalah wajah dari tata nilai lokal.

Survey Centre Intelligency of Agency (CIA), jumlah populasi LGBT di Indonesia berada pada urutan ke-5 terbanyak di dunia setelah China, India, Eropa, dan Amerika (Rahman, 2015). Data Kementerian Kesehatan pada 2012 menunjukkan bahwa terdapat 1.095.970 jiwa (0,0044%) lelaki berhubungan seks dengan lelaki (LSL) alias gay yang tersebar di semua daerah. Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah LSL terbanyak, yaitu sebanyak 300.198 jiwa (0,68%) orang yang terindikasi merupakan gay, dan diantaranya sebanyak 4.895 orang (0,016%) merupakan penderita HIV/AIDS. Kemungkinan besar jumlahnya terus meningkat seiring berjalanya waktu. Fakta ini tentu tidak bisa kita abaikan begitu saja. Kita tidak sedang mencurigai. Kita sedang mengantisipasi.

Seleksi yang tidak menyentuh aspek orientasi psikologis akan berisiko melahirkan representasi yang tak selaras dengan harapan masyarakat. Dengan psikotes yang tepat dan profesional, kita tidak hanya menyaring siapa yang tampil, tapi juga memastikan siapa yang mampu menjaga citra budaya yang diembannya. Ini bukan diskriminasi. Ini penyaringan nilai. Karena tak semua ruang publik bisa diisi semua orang secara sama.

Mengapa Karantina Ala Militer Penting?

Saya tahu, ide ini mungkin terdengar kaku di zaman serba fleksibel ini. Tapi izinkan saya mengingatkan: kita tidak sedang membentuk model, tapi simbol. Dan simbol itu harus tahan uji. Saat saya menjadi finalis di tahun 2012, kami sempat menjalani pelatihan fisik dan kedisiplinan yang sangat intensif. Bukan untuk menyiksa, tapi untuk menguji: apakah yang tersisa di akhir pelatihan benar-benar orang yang siap tampil sebagai wajah masyarakat?

Hari ini, banyak yang mudah menyerah hanya karena kritik warganet. Banyak yang kehilangan jati diri hanya karena panggung terlalu terang. Maka sebelum seseorang memakai selempang Moka, izinkan ia diuji bukan hanya oleh sorak sorai tepuk tangan, tapi juga oleh mental dan kedisiplinan. Hal ini sejujurnya sudah selaras dengan program Gubernur Jawa Barat yang mengirimkan pelajar ke barak militer untuk menyenyam Pendidikan karakter.

Moka Harus Menjadi Ajang Penyaring Nilai, Bukan Pelipur Lelah Estetika

Kita tidak bisa terus membiarkan ajang budaya ini kehilangan ruhnya. Selempang itu berat. Ia tidak bisa dikenakan sembarangan. Saya menulis ini bukan karena nostalgia, tapi karena tanggung jawab moral sebagai bagian dari sejarah ajang ini.

Saya tahu usulan ini akan mengundang banyak diskusi. Tapi dalam demokrasi yang sehat, gagasan bukan untuk disembunyikan, melainkan diuji. Dan saya yakin, para pegiat budaya dan panitia Moka yang saya kenal punya kebijaksanaan untuk melihat bahwa ini bukan soal membatasi, tapi soal menjaga. Menjaga agar mojang jajaka tetap menjadi simbol kebanggaan, bukan hanya simbol keraguan.

Dan kini, hujan di Kuningan masih belum reda. Rinainya menyapu pelan dedaunan, seperti ingin menghapus letih masa lalu dan menumbuhkan harapan baru. Dari balik jendela yang berkabut, saya membayangkan generasi mojang jajaka berikutnya—berdiri tegap, bukan hanya karena tampan atau rupawan, tapi karena jiwanya telah dipilih untuk menjaga nilai. Di tanah yang basah ini, selempang itu tak lagi sekadar lambang. Ia menjelma janji. Janji untuk mewakili bukan hanya wajah, tapi arah.

Untuk anak-anak muda yang kelak memakai selempang itu, semoga kalian mengerti bahwa Mojang Jajaka bukan sekedar cantik atau menarik. Ia adalah tentang siapa yang mampu mewarisi budaya dan menjaga norma dengan arah hati yang tak menyimpang dari jati diri. []

Kuningan, 3 Juli 2025

Related posts