Triwulan Perdana Jadi Tren Inflasi

BPSJABARTODAY.COM – BANDUNG — Ternyata, dalam perekonomian, ada momen yang kerap menjadi tren terjadinya inflasi. “Benar. Hampir setiap triwulan pertama, Jabar mengalami inflasi,” tandas Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar , Dody Gunawan Yusuf di Kantor BPS Jawa Barat, Jalan PHH Mustopha Bandung, belum lama ini.

Akan tetapi, lanjut Dody, pada triwulan pertama 2015, terjadi sedikit perbedaan. Tatar Pasundan, lanjutnya, mengalami deflasi. Besarnya deflasi pada Fabruari tahun ini, sambung Dody, sebesar 0,25 persen. Menurutnya, deflasi terjadi karena andil harga jual cabai merah yang merosot hampir 50 persen. Selain itu, ujar dia, harga jual beberapa komoditi pun mengalami hal yang sama.

Memang, lanjut Dody, naiknya harga jual beras menjadi pemicu inflasi di Jabar. Namun, sambung dia, inflasi itu tertutupi oleh merosotnya harga jual beberapa komoditi, ditambah turunnya harga jual bahan bakar minyak (BBM).

Berdasarkan pemantauan pada tujuh kota, Dody mengungkapkan, pihaknya mencatat Indeks Harga Konsumen Gabungan (IHKG) Jabar pada Februari 2015 deflasi 0,25 persen. Itu berarti, jelasnya, IHK pada Februari turun menjadi 117,08 poin. Sebelumnya, IHK Jabar pada Januari 2015 sebesar 117,37 poin. Ini berarti, terangnya, laju inflasi tahun kalender 2015 year to date senilai minus 0,62 persen. Sedangkan laju inflasi secara year on year sejumlah 5,42 persen.

Dijelaskan, data menunjukkan, beberapa komoditi yang harga jualnya naik dan berandil dalam terjadinya inflasi antara lain, tarif listrik sebesar 0,03  persen, dan sewa rumah sejumlah 0,02 persen. Sedangkan komoditas yang harga jualnya turun dan berandil pada terjadinya deflasi yaitu merah 0,25 persen,‎ BBM jenis premium sejumlah 0,24 persen, cabai rawit sebesar 0,08 persen. “Juga komoditi lain seperti telur ayam ras dan bahan bakar rumah tangga,” tuturnya.

Tentang ada tidaknya inflasi pada Maret 2015 karena pada awal bulan itu harga jual BBM dan elpiji 12 kg, Dody mengatakan, naiknya harga BBM jenis premium senilai Rp 200 per liter berkontribusi pada inflasi sekitar 0,1 persen‎. “Artinya,  pada Maret 2015, inflasi dapat terjadi. Itu karena harga jual elpiji 12 kilogtam juga naik. Tapi, kami optimis tidak terjadi inflasi besar karena tidak tertutup kemungkinan, harga jual beras pada Maret kembali turun,” pungkasnya.  (ADR)

Related posts