Thursday , 21 November 2019
Home » Bandung Raya » Timbun BBM, Gunakan Surat Keterangan Dari Kecamatan

Timbun BBM, Gunakan Surat Keterangan Dari Kecamatan

Kepala Bidang Humas Polda Jabar Komisaris Besar Martinus Sitompul (kiri) bertanya kepada para tersangka penimbun BBM, Jumat (23/5). Dari penangkapan ini, polisi menyita 3 ton liter solar. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)
Kepala Bidang Humas Polda Jabar Komisaris Besar Martinus Sitompul (kiri) bertanya kepada para tersangka penimbun BBM, Jumat (23/5). Dari penangkapan ini, polisi menyita 3 ton liter solar. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Penyalahgunaan bahan bakar minyak bersubsidi kembali terjadi, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Barat menangkap 4 tersangka dengan modus operandi yang berbeda pada Jumat (16/5/2014).

Yang pertama adalah AE, yang membeli solar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Citatah dan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat. Dikatakan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jabar Komisaris Besar Martinus Sitompul, AE ini mengumpulkan solar untuk diri sendiri yang digunakan untuk bahan bakar 4 unit beco di galian pasir sebuah perusahaan milik tersangka di Kampung Cilutung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

“Yang kedua dalam jumlah besar. Kita ada amankan 3 ton atau 3 ribu liter solar bersubsidi. Dia beli dari SPBU, kemudian dijual ke industri-industri,” ujar Martin di Mapolda Jabar, Jumat (23/5/2014).

Kasus ini terungkap berkat Tim Khusus Satuan Brimob Polda Jabar, Selasa (20/5/2014), di Jalan Adipati Ukur, Kampung Pasir Paros, RT 6/12, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Tersangka dalam kasus ini adalah, AS, IJ, dan CS. “Dari penimbunan ini, ketiganya mendapat keuntungan sebesar Rp 1000 hingga Rp 1500. Jadi harga solar bersubsidi yang harganya Rp 5500 dijual Rp 6000 sampai Rp 6500,” jelas Martin.

Sebenernya, ucap Martin, pembelian BBM bersubsidi diperbolehkan hingga 200 liter, dengan catatan menggunakan surat keterangan dari kecamatan. Itupun, tegasnya, untuk daerah yang tidak terjangkau SPBU. Di luar itu, termasuk pelanggaran dan tidak diperbolehkan sama sekali. “Dia (tersangka) pakai (surat keterangan), tapi digunakan di seluruh SPBU yang dia datangi,” ungkap pria berkacamata itu.

CS (30), salah seorang tersangka, mengaku, bila surat yang digunakan asli dan bertandatangan camat. BBM itu, dituturkannya, dibeli di SPBU Cikarees dan SPBU Klang Roke di daerah Kabupaten Bandung, secara bergantian dengan kedua rekannya menggunakan surat rekomendasi tersebut.

Dari AE, polisi menyita 1 ton solar, 1 truk, 1 selang, dan 1 buku catatan pendistribusian BBM. Sedangkan, dari tangan AS, IJ, dan CS, diamankan 1 unit kendaraan tangki berisi 1000 liter solar, 1 unit Daihatsu Zebra yang didalamnya berisikan 5 drum plastik kosong, 1 unit Toyota Kijang yang didalamnya 5 plastik berisikan 1000 liter solar, 2 mesin pompa merk Sanyo, dan 2 selang.

Akibat perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 53 huruf b, c, dan d, dan Pasal 55 UU No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi jo. Pasal 55 KUHP. “Ancaman hukumannya penjara 6 tahun atau denda Rp 60 miliar,” tandas Martin. (VIL)