Tiap Hari, Transaksi BEI Capai Triliunan Rupiah

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Salah satu unsur penting dalam perekonomian adalah kehadiran pasar modal. Perdagangan bursa di negara ini pun menunjukkan tren positif. Satu indikatornya, terlihat pada nilai transaksi perdagangan yang angkanya mencapai triliunan rupiah.

“Selama 2013, nilai transaksi perdagangan begitu besar. Nilainya, rata-rata Rp 6,2 triliun per hari. Tahun ini, proyeksinya meningkat menjadi rata-rata Rp 6,4 triliun setiap harinya,” tandas Head of Economic Analysist Research and Developtment Bursa Efek Indonesia (BEI), R Haidir, pada Smart Investment Course ‘Challenge and Opportunity Towards Indonesia’s Stock Market di Universitas Padjadjaran Bandung, belum lama ini.

Pihaknya, tegas Haidir, optimis mampu merealisasikan nilai transaksi rata-rata menjadi Rp 6,4 triliun per hari. Pasalnya, terang dia, sejauh ini, secara rata-rata, nilai transaksi perdagangan sebesar Rp 6,03 triliun per hari.

Dasar optimisme lainnya, sambung dia, hingga 7 November 2014, terdapat 502 perusahaan yang terdaftar. Sebanyak 19 perusahaan di antaranya, lanjut dia, tahun ini, sukses melantai pada perdagangan bursa.

Haidir tidak membantah bahwa perdagangan sempat melemah pada semester pertama tahun ini. Akan tetapi, sambungnya, pihaknya memprediksi, kondisinya membaik pada semester terakhir 2014 dan memasuki 2015.

Terjadinya perlambatan perdagangan itu, jelas dia, satu di antaranya karena berembusnya isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Isu tersebut, terangnya, membuat transaksi drop Rp 5 triliun per hari. Padahal, tambahnya, dalam kondisi normal, nilai transaksi melebihi Rp 6 triliun setiap harinya.

Isu kenaikan harga BBM subsidi pun, imbuhnya, menyebabkan para pelaku usaha dan industri bersikap pasif, artinya, memilih opsi wait and see. Pelaku, tukasnya, menunggu kepastian pemerintah menerbitkan putusan nilai kenaikan harga BBM subsidi.

Menurutnya, apabila pada akhirnya pemerintah memutuskan kenaikan harga BBM subsidi, pihaknya tetap optimis bahwa sentimen pasar tetap positif. Syaratnya, ucap dia, subsidi BBM subsidi tersebut pemerintah alihkan pada sektor yang produktif. Umpamanya, sebut dia, infrastruktur.

Pasalnya, sahut Haidir, keberadaan sarana infrastruktur yang memadai dapat menjadi trigger ekonomi, termasuk pergerakan sahan, utamanya, pada sektor konstruksi, industri semen, dan sejenisnya. Namun, seru dia, ada juga yang terimbas putusan naiknya harga BBM subsidi, yaitu perbankan. Itu karena, kata Haidir, kenaikan harga BBM subsidi memicu terjadinya inflasi. (ADR)

Related posts