Satu Tahun, Inflasi Jabar 6,43 Persen

BPSJABARTODAY.COM – BANDUNG — Terjadinya beragam perkembangan global, di antaranya melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan adanya sejumlah putusan pemerintah,  semisal tentang harga jual bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik (TDL), berefek pada ekonomi nasional, tidak terkecuali Jabar. Satu dampak yang paling terasa sebagai akibat adanya kondisi itu adalah inflasi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar menjunjukkan, dalam satu tahur terakhir,  yaotu Juli 2014-Juli 2015, Jabar mengalami inflasi cukup tinggi,  yaitu 6,43 persen. “Inflasi Juli 2015 di Jabar sebesar 0,79 persen. Sedangkan inflasi Januari-Juli 2015 sejumlah 1,53  persen,” tandas Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistika (BPS) Jawa Barat Dody Gunawan Yusuf.

Dody meneruskan, kelompok bahan makanan merupakan kontributor  inflasi tertinggi,  yakni 2,11 persen. Kontributor lainnya,  kata Dody, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Inflasi kelompok tersebut sejumlah   1,38 persen.

Soal isu naiknya harga BBM subsidi  (premium), yang kabarnya menjadi Rp 8.450 per liter, Dody menyatakan,  sebaiknya tidak diikuti oleh adanya kenaikan harga jual beragam komoditi lainnya, khususnya,  produk atau barang yang harga jualnya diatur pemerintah. Jika itu itu terjadi, tidak tertutup kemungkinan, target inflasi tahun ini,  yaitu 4  plus minus 1 persen, dapat tercapai. Idealnya, pendapat Dody, akhir 2015, inflasinya 3 persen. Maksimalnya,  ucapnya, 5 persen.

Menurutnya, jika isu kenaikan harga BBM subsidi tersebut terbukti, itu merupakan sebuah kekhawatitan karena berpotensi menyebabkan inflasi. Apalagi, tambahnya, kenaikan harganya melebihi 10 persen.

Namun, imbuhnya, ada hal lain yang lebih menjadi kekhawatiran. Adalah naiknya beragam komoditi dan pengiringnya, semisal jasa transportasi,  baik barang maupun orang.

Masih soal isu premium, ironisnya, External Relation Marketing Operation Region III Jawa bagian Barat PT Pertamina (Persero), Milla Suciyani, mengaku belum mengetahui gosip naiknya harga jual premium dalam waktu dekat. “Belum tahu. Saya menunggu informasi kantor pusat mengenai kepastiannya, seperti apa dan kapannya,” ucap Mila. (ADR)

Related posts