Saksi Meringankan Terdakwa Diperiksa Bergantian

  • Whatsapp

JABARTODAY.COM – BANDUNG Komisi Pemberantasan Korupsi berkomitmen memaksimalkan pemulihan kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi dan pencucian uang.

Koordinator Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi, Haerudin mengatakan, salah satu caranya adalah dengan mengusut dugaan korupsi dan TPPU yang dilakukan terdakwa.

Dia mengatakan tak hanya menerapkan dakwaan dugaan tindak pidana korupsi, KPK juga tak segan menerapkan pasal TPPU terhadap terdakwa yang diduga melakukan korupsi.

“Komitmen kami untuk memaksimalkan penanganan tindak pidana korupsi ataupun pencucian uang, hal ini  dimaksudkan untuk memaksimalkan  pengembalian uang hasil korupsi kepada negara,” ujar Haerudin, usai sidang dugaan tindak pidana korupsi RTH Kota Bandung dan Tindak Pidana Pencucian Uang, dengan terdakwa Dadang Suganda, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Kamis (28/1/2021).

KPK akan terus mendalami dugaan aliran uang dari terdakwa Dadang Suganda, dalam sejumlah transaksi jual beli tanah. Hal itu sesuai dengan agenda komisi antirasuah mengacu pada hasil penyidikan dugaan TPPU oleh terdakwa.

Baca Juga

“Aliran uang dari terdakwa menjadi perhatian bagi kami,” katanya.

Sebelumnya pada persidangan yang dipimpin Hakim Ketua T Benny Eko Supriyadi., penuntut umum KPK menghadirkan saksi dari pemilik tanah dan rumah yakni Ikin Sodikin, Hera Herawati, dan Dicky Ahmad Taufik. Selain itu, PU juga menghadirkan mantan Camat Rancaekek Haris Taufik, PPATS Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung Indra Raspati, Camat Cilengkrang Wawan Ahmad Ridwan, serta notaris Dudi Wahyudi dan Mulyadi Siradz.

Dalam proses persidangan, KPK mendapat keterangan adanya sejumlah transaksi jual beli tanah yang dilakukan terdakwa Dadang Suganda dan putranya Asep Rudi Saeful Rohman.

Selanjutnya, pemeriksaan para saksi berjalan lancar dan meringankan terdakwa Dadang Suganda.

Seperti Saksi Notaris Dudi Wahyudi, yang sudah berteman dengan keluarga Dicky Ahmad Taufik dalam proses jual beli tanah dan bangunan di kawasan Arcamanik. Pembelian aset milik keluarga Dicky berjalan normatif meski awalnya ada tawar menawar.

“Aset milik keluarga Dicky terjual sekitar 2019 seharga Rp. 2,5 miliar seperi yang tertera dalam Akta Jual Beli. Pembayarannya lewat rekening. Tidak ada yang salah dengan kuitansi jual beli,” kata Dudi.

Tak banyak pertanyaan untuk para saksi. Penasihat hukum hanya membuktikan bahwa, uang yang dimiliki dan dipakai Dadang Suganda maupun anaknya Asep Rudi Saeful Rohman dari hasil usahanya yang sah. Selain dari hasil jual beli tanah ada juga yang berasal dari perdagangan kerupuk, seperti yang dijelaskan saksi dalam sidang. (*)

Related posts