Thursday , 21 November 2019
Home » Opini » Rahman Tolleng: Pejuang “Politik Memuliakan”

Rahman Tolleng: Pejuang “Politik Memuliakan”

Oleh  Zainal Bintang

Usia saya terpaut hampir sepuluh tahun lebih muda darinya. Konsistensinya pada keteguhan sikap,  membuat tokoh itu hidup di dalam lubuk hati saya. Sebagai penulis lepas di harian Suara Karya awal 70an, kami sering berkomunikasi. Pada tahun itu almarhum sudah sebuah nama besar, pemimpin media perjuangan mahasiswa yang diberi nama Mahasiswa Indonesia (1966- 1974).

Dikenal  penentang  usia muda Nasakomnya Bung Karno. Ketika Soekarno jatuh tahun 1965, umur almarhum masih  28 tahun. Beberapa tahun sebelumnya dia sudah mengambil sikap berhadapan pemimpin tertinggi negeri ini: menolak Dekrit Presiden 1959.

Sepotong idealisme mau dirawatnya  agar negeri ini tumbuh berkembang tanpa ada rekayasa manipulasi Pancasila, apapun alasannya. Tidak mudah memang, tapi itulah  konsekwensi konsistensi sebuah komitmen.

Dia dikenal sebagai sosok yang berlatar belakang aktivis, politisi dan jurnalis.  Ketangguhan idealisme yang diyakininya tidak mudah luntur ancaman kekuasaan atau dipertukarkan dengan hal  duniawi. Iming – iming jabatan dan harta misalnya, nyaris tidak menyilaukannya.

Sampai di ujung usianya dia  meyakini: berpolitik adalah salah satu cara memuliakan kehidupan rakyat.  

Riwayat masa lalunya ditulis di media  begini :“Dorongan berpolitiknya datang dari rasa keindonesiaan yang bersemi ketika dia masih duduk di kelas 3 sekolah dasar di Watampone, Sulawesi Selatan di penghujung 1945. Hampir setiap petang, bersama teman sepermainannya, ia mengintip sekelompok anak muda berlatih baris-berbaris di jalan raya. Mereka mengenakan pakaian putih dengan emblem merah-putih tersemat di dada”.

Tokoh pergerakan Rahman Tolleng meninggal pada Selasa, 29 Januari 2019 di Rumah Sakit Abdi Waluyo Jakarta. Pria kelahiran Sinjai, 5 Juli 1937.

Kepergian almarhum untuk selama – lamanya menorehkan luka yang  dalam pada tubuh idealisme bangsa ini. Sikapnya yang tegas tentang : berpolitik adalah salah satu cara memuliakan kehidupan rakyat,  tidak tercapai. Menggantung di langit perpolitikan negeri ini. Seperti di olok – olok paradoks faktual perilaku koruptif  yang diperagakan wakil rakyat hasil reformasi.

Berpolitik  hari ini telah mengambil bentuk lain, tergelincir menjadi  : berpolitik adalah salah satu cara menghina dinakan kehidupan rakyat, dan menghina diri sendiri. Wakil rakyat yang seyogyanya menjadi contoh teladan kebajikan malah bergiliran menjadi  “pasien” KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebagai koruptor alias perampok uang rakyat.

Sikap almarhum yang kukuh dan tangguh  dalam “senyap” membuktikan : manusia bisa hidup normal dan terhormat tanpa perlu rakus jabatan dan serakah materi. Tanpa perlu melakukan akrobatik  politik, mengakali regulasi untuk merengkuh kekuasaan sebagai pintu legitimasi, lalu dengan dingin  meninabobokan rakyat menabur janji kosong kampanye.

Ketika Peristiwa Malari 15 Januari 1974 pecah, – meskipun itu adalah peristiwa politik  tingkat dewa sebagai ekses konflik antar elite, dia dituduh terlibat dalam demonstrasi menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Ditahan  selama enam belas bulan. Kemudian dibebaskan tanpa proses pengadilan.

Konsekwensi politik lebih jauh menerpanya, dia direcall sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat wakil Golkar. Diberhentikan sebagai  pimpinan Dewan Pimpinan Pusat Golkar, lalu dicopot sebagai pemimpin redaksi harian Suara Karya corong resmi pemerintah Orde Baru.

Namun demikian, perubahan rute politik sekaligus pelucutan jabatan  politik yang dialaminya, tidak membuatnya kalah . “Manusia  bisa dihancurkan tapi tidak bisa dikalahkan”,  seperti ditulis  sastrawan Amerika Serikat, Ernest Hemingway,  dalam novelnya yang berjudul “The Old Man And The Sea.(Lelaki Tua Dan Laut).  Sangat mungkin  almarhum pernah membaca novel itu.

Wawancaranya dengan media Jerman , Deutsche Welle menarik disimak  

Apa lacur? Generasi demi generasi telah berlalu, tapi harapan itu masih tetap jauh.

Konstitusi menyebutkan negara ini berbentuk Republik. Anak muda sekarang tentu tidak tahu para pejuang dulu dijuluki kaum “Republikein”. Tapi kata republik kini seolah tak berarti apa-apa, kecuali bahwa Indonesia bukan kerajaan.

Resminya, bukan kerajaan memang –sungguh tingkah para pemimpin kerap lebih feodal, kalau tidak lebih zalim, dibandingkan dengan seorang monarki  di jaman sekarang. Bangsa ini pun kurang menyadari bahwa dalam kata Republik tersimpul makna filosofis yang dalam, yakni respublica atau kemaslahatan bersama dalam arti seluas-luasnya.    

Dimanakah tempatnya warisan sikap jiwa dan idealisme almarhum hari – hari ini, ketika politik berlangsung tanpa filosofis yang  jelas , tanpa marwah kebangsaan yang tegas. Politik hari ini bagaikan mesin giling besar bergerak di atas tanah kering idealisme, kerontang  nilai moralitas. Menjadikan materi sebagai “nabi” baru yang menyesatkan.

Semua kebajikan filosofis telah  lunglai layu tak bersinar dikalahkan oleh budaya baru  : pameran kemewahan yang menjauhi rakyat. Jelas ini menghina etika dan moral. Gagasan besar sebagai bangsa besar  tereduksi di tangan politisi kagetan yang bermodal kedangkalan nalar.

Tiga hari sebelum Rahman Tolleng meninggal, Sabtu, 26 Januari 2019, petinggi negeri ini disibukkan acara layat melayat   konglomerat pendiri Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja yang meninggal dunia. Dia meninggalkan gurita bisnis yang besar, bahkan disebutkan memiliki aset Rp 205 triliun.

Ada dua sosok yang meninggal  hampir bersamaan. Tapi dengan pijakan idealisme yang berbeda. Meskipun terjadinya di halaman  bangsa dan negara yang sama.

Bangsa ini  tengah dilanda  hiruk pikuk perubahan nilai  ke arah sudut gelap yang mencemaskan. Rahman Tolleng  – tokoh anti oligarkis yang kokoh dalam kesendirian itu  – kepergiannya sunyi tanpa layatan petinggi negeri.

Padahal diapun meninggalkan warisan gurita idealisme, hanya saja sedang tertimbun  longsor demokrasi akibat erupsi politik.

    Selamat jalan bung Rahman Tolleng : “Bukan kematian itu benar  menyayat kalbu, tapi ketabahanmu menerima segala tiba”, ujar penyair  Chairil Anwar dalam salah satu sajaknya.

*Zainal Bintang, wartawan senior dan pemerhati masalah sosial budaya.