Peritel Khawatirkan Banjir Produk Tiongkok

  • Whatsapp
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG – Pasca resmi menjabat Presiden Amerika Serikat (AS) menggantikan Barrack Obama, Donald Trump menerbitkan sebuah kebijakan bidang ekonomi, America First, yaitu pembatasan produk non-AS beredar di Negeri Paman Sam. Tentunya, kebijakan itu berefek pada perdagangan internasional. Tidak tertutup kemungkinan, negara-negara yang selama ini menjadikan AS sebagai pasar ekspor, membidik negara lain sebagai tujuan ekspor.

Sejauh ini, banyam poduk Tiongkok yang masuk AS. Terbitnya kebijakan America First, dapat berpotensi membuat Tiongkok menjual barang-barangnya ke negara-negara di Asia. “Termasuk menjualnya ke Indonesia,” tandas Wakil Presiden Republik Indonesia, M Jusuf Kalla, saat menjawab pertanyaan tentang Trump Efect pada acara Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) III Kadin Jabar di Hotel Aryaduta, Jalan Sumatera Bandung belum lama ini.

JK, sapaan akrabnya, enegaskan, melihat kondiai itu, perlu adanya upayaemperkuat daya saing produk nasional, baik industri garment maupun lainnya. Menurutnya, harus ada dukungan bagi para pengusaha daerah. Ini supaya, jelas JK, agar produknya termanfaatkan dan terserap secara maksimal.
Sekretaris Dewan Pengurus Daerah (DPD). Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jabar, Henri Hendarta, mengakui bahwa kekhawatiran kalangan peritel berkenaan dengan mengalirnya produk asing, khususnya, asal Tiongkok bukan jal baru. Karenanya, ungkap Henri, para peritel memilih produl lokal sebagai komoditi bisnis. “Sekitar 80 persen yang diperjualbelikan peritel adalah produk lokal. Sisanya, impor,” seru Henri di kawasan Jalan Talagabodas Bandung.

Henri tidak membantah bahwa ada juga peritel yang menjual produk impor 20 persen lebih. Kendati begitu, imbuh Henri, peritel tersebut memiliki pangsa pasar yang berbeda.

Henri melanjutkan, produk asing, khususnya, asal Tiongkok, yang beredar pada pasar ritel beragam komoditinya. Tidak hanya makanan, buah-buahan dan mainan, sahut Henri, tetapi juga busana. “Sikapi secara bijak situasi dan kondisi ini. Saya kira, saat ini, konsumen sudah cerdas. Mereka paham, produk mana yang berkualitas, mana yang tidak,” paparnya. (win)

Berita Terkait