Emil: Media Bisa Panas dan Damai

Ketua KPI Yuliandre dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil membicarakan soal penyelenggaraan konferensi penyiaran tingkat dunia, di Pendopo Kota Bandung, Senin (21/11). (diskominfo for jabartoday)
Ketua KPI Yuliandre dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil membicarakan soal penyelenggaraan konferensi penyiaran tingkat dunia, di Pendopo Kota Bandung, Senin (21/11). (diskominfo for jabartoday)

JABARTODAY.COM – BANDUNG Pada 22-24 Februari 2017 mendatang,  Komisi Penyiaran Indonesia akan mengadakan Meeting Conference seluruh dunia mengenai penyiaran. “Sebelumnya ada 3 opsi terselenggaranya acara tersebut. Antara lain Jakarta, Bandung, dan Bali. Setelah diputuskan kami memilih kota Bandung,” jelas Ketua KPI Pusat Yuliandre, di Pendopo Kota Bandung, Senin (21/11).

Dia menjelaskan, dipilihnya Kota Bandung, karena mempunyai banyak destinasi tempat yang antik dan bangunan heritage yang sering dikunjungi masyarakat. “Dengan demikian, kami mengundang bapak untuk hadir, tetapi hambatan yang sedang kami lawan adalah komunikasi persiapan untuk mengundang ke negara negara,” tutur Yuliandre.

Yuliandre menambahkan, isu yang akan dibahas adalah isi siaran yang tanpa arah, seperti provokasi. “Umumnya isu seperti itu menghasilkan ratting yang besar, sehingga kami akan membahas mencari jalan keluar dari para media,” jelasnya.

Di tempat sama, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyatakan, sebagai pengonsumsi informasi, perlukan referensi dengan audiens yang tinggi. “Memang media itu, bisa membawa damai dan panas, apalagi konteks hari ini di Indonesia yang cukup beragam. Saya pikir di zaman modern ini makin damai, ternyata tidak, fobia naik, perdamaian kurang. Artinya, mau dunia sepintar apapun, ternyata informasi ini sesuatu yang harus dicari relevansi baru,” jelas pria yang akrab disapa Emil ini.

Sebagai Wali Kota, Emil mengamati media digital tidak terkontrol. Isu yang negatif selalu bermunculan. “Bisa dicontohkan seperti media kampus, head news yang diberitakan agama, itu menimbulkan isu yang kurang baik, jika hal tersebut terus menerus dibahasnya,” jelas Emil.

Maka, sahut Emil, harus ada penanaman moral sejak dini. “Kalau di Bandung, Dinas Pendidikan memberikan karakter tambahan kurikulum, yaitu dari segi agama, budaya, bela negara, dan lingkungan. Dari keempat itu, kita tanamkan karakter untuk bisa memilih, menghargai, dan menanamkan kepercayaan,” tukas Emil.

Dia berharap, KPI ke depannya lebih baik lagi, konten-konten bisa memberikan edukasi yang relevan kepada khalayak. “Mudah-mudahan dengan silaturahim ini kita bisa sharing. Khusus untuk acara Meeting Conference di bulan Februari, Insya Allah saya bantu,” pungkas Emil. (koe)

Related posts