Elpiji 12 Kilogram Naik, Pebisnis Hotel Was Was

aJABARTODAY.COM – BANDUNG Beban masyarakat sepertinya dapat semakin berat. Pasalnya, hantaman kenaikan harga berlangsung cukup bertubi-tubi. Setelah kenaikan tarif dasar listrik (TDL), belum lama ini, pemerintah melakukan pembatasan penjualan bahan bakar minyak bersubsidi. Diawali jenis solar, kini pemerintah pun mulai membatasi penjualan premium, meski masih berlangsung di beberapa titik Jakarta dan sekitarnya.

Yang terkini, adanya wacana kenaikan harga jual elpiji 12 kilogram. Jika itu terealisasi, tentunya, banyak kalangan yang was-was dan sangat berkeberatan karena secara tidak langsung, harus merogoh kocek anggaran lebih besar lagi. Salah satu kalangan yang merasakan hal itu adalah dunia usaha, utamanya, hotel dan restoran.

“Tentu saja, kami sangat berkeberatan atas adanya rencana kenaikan elpiji 12 kilogram itu. Otomatis, apabila pemerintah menyetujui usul PT Pertamina tersebut, hal itu menyebabkan biaya operasional makin tinggi,” ujar Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Jawa Barat, Herman Muchtar, belum lama ini.

Memang, lanjut pria asal Kerinci, Jambi, tersebut, sejauh ini, sebagian pelaku bisnis hotel dan restoran menggunakan elpiji berukuran 50 kilogram. Akan tetapi, lanjut penyandang sabuk hitam Dan V Karate tersebut, para pebisnis hotel dan restoran was-was dan khawatir bahwa kenaikan elpiji 50 kilogram dapat terjadi pasca harga jual elpiji 12 kilogram resmi naik.

Herman mengatakan, naiknya harga jual elpiji 12 kilogram dapat berdampak cukup luas. Menurutnya, hal itu dapat menyebabkan terjadinya kenaikan harga sejumlah barang kebutuhan pokok. “Efeknya dapat dirasakan dunia perhotelan. Daya beli masyarakat melemah. Kondisi itu dapat membuat tingkat hunian kamar (okupansi) menyusut. Itu karena masyarakat mengalkulasi ulang anggarannya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Hal itu dapat mengurangi alokasi dana untuk wisata,” papar Herman.

Secara tidak langsung, sahut Herman, situasi itu dapat membuat keberadaan bisnis hotel terancam. Pasalnya, terang Herman, saat ini, utamanya pada low season, okupansi hotel, khususnya, di Jabar termasuk Bandung, tergolong rendah, sebagai dampak persaingan yang tidak hanya semakin ketat, tetapi juga kurang sehat. “Seandainya okupansi turun lagi, tidak tertutup kemungkinan, bisnis hotel di Jabar menjadi kurang prospektif,” tutup Herman. (ADR)

Related posts