JABARTODAY.COM – BANDUNG Guna mencegah terulangnya kejadian banjir bandang, seperti di Jalan Pasteur dan Pagarsih, beberapa waktu lalu, Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung, dalam jangka panjang akan menyiapkan sistem penanggulangan banjir berupa tol air di dua lokasi berpotensi banjir tersebut.
Sekretaris DBMP Kota Bandung Agoes Sjafroedin menyatakan, di musim penghujan ini, seluruh anggota Unit Reaksi Cepat (URC) disiagakan selama 24 jam di lokasi-lokasi rawan banjir. Bahkan, untuk memermudah kinerja petugas di lapangan, DBMP juga melengkapi mereka dengan fasilitas floating pump sebanyak enam unit. Dimana fasilitas tersebut diperuntukkan menangani persoalan banjir di Jalan Dr. Djundjunan, Jalan Pagarsih, dan Gedebage. “Untuk banjir kami terus monitoring, bahkan pasukan URC UPT dan Jurig Cai disiagakan selama 24 jam,” tutur Agoes, di ruang kerjanya, Kamis (3/11).
Sementara, untuk antisipasi jangka panjang, sambung Agoes, tol air, yang merupakan fasilitas pipa pembuang air yang dipasang melintasi Jalan Djundjunan (Pasteur) itu, akan ditempatkan sesuai dengan gorong-gorong yang ada saat ini.
Tak hanya menambah tol air, Agoes mengaku, bakal menambah fasilitas pompa mobile di Jalan Pasteur, dengan kapasitas dorong pompa yang mencapai 75 sampai 100 liter per detik.
“Pompa itu sepasang dengan pipa, feed pump yang nanti kan sistem kerjanya mendorong aliran air, sehingga meminimalisir air yang melimpah ke bahu jalan. Tol air akan kami sediakan di Djundjunan dan Pagarsih, anggarannya Rp 1 miliar dari APBD murni 2016, masing-masing Rp 500 juta,” tambahnya.
Adapun untuk ukuran pipa khusus pembuangan air (tol air), dimensinya mencapai 2×10 inci. Sementara, untuk panjang tol air tersebut akan disesuaikan dengan lebar bahu Jalan yang tersedia atau sekitar 25 hingga 30 meter. Untuk rekayasa lainnya, Agoes memaparkan, akan membongkar jalan masuk rumah di daerah Babakan Jeruk dan mengganti jembatan jalan masuk di kawasan Hotel Topas. “Selain itu, karena Jalan Djundjunan termasuk jalan nasional, kami juga akan mengusulkan untuk meninggikan jalan dan melebarkan gorong-gorong ke Kementrian PUPR,” tambah Agoes.
Upaya teknis lainnya, terang Agoes, DBMP akan melakukan pengangkatan sedimentasi di Sungai Cianting dengan menggunakan sarana khusus dengan backhoe dan spider excavator. Akan halnya, dengan penanganan banjir di Jalan Pagarsih, rekayasa teknis serupa akan dilakukan di jalan tersebut, baik dalam penyedian tol air, maupun pengangkatan sedimentasi di Sungai Citepus.
“Sarana tol air selain di Djundjunan akan disiapkan di Jalan Pagarsih. Pada tahun ini, kami juga akan memasang kamera pemantau dan alat pendeteksi banjir di titik-titik rawan,” tandas Agoes. (koe)





