Beras Jateng Mengalir ke Jabar

(erwin adriansyah)
(erwin adriansyah)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Publik di Jabar tidak perlu mengkhawatirkan minimnya ketersediaan bahan makanan pokok, yaitu beras. Pasalnya, kemungkinan besar, pasar Jabar berlimpah beras. Itu terjadi karena masuknya beras dari provinsi lain, yaitu Jateng.

“Informasinya, Jateng sudah panen. Mayoritas, beras produksi Jateng masuk Jabar. Itu terjadi karena pasar Jabar memang agresif. Jadi, masuknya beras dari Jateng, antara lain, Demak, Pati, serta segera diikuti Sragen dan Ngawi yang akan panen, membuat stok beras Jabar aman,” tandas Kepala Bulog Divisi Regional (Divre) Jabar, Alip Afandi di Gudang Bulog Jabar, kawasan Gede Bage, Kota Bandung , Senin (23/2/).

Alip mengutarakan, masuknya beras dari Jateng itu membuat harga gabah kering panen (GKP) turun menjadi Rp 4.500 per kilogram. Sebelumnya, ucap dia, harga GKP sebesar Rp 4.800 per kilogram.  Melihat kondisi itu, Alip berpendapat, idealnya, harga jual beras di Jabar tidak mengalami kenaikan.

Secara keseluruhan, ungkap Alip, sebenarnya, stok beras di Jabar, secara total, dalam kondisi aman hingga 3 bulan mendatang. Ketersediaan beras di Jabar, ucapnya, mencapai 98 ribu ton. Untuk Bandung, lanjut Alip, sebanyak 15 ribu ton.

Untuk memenuhi kebutuhan, Alip menegaskan, pihaknya siap menggeser stok beras dari gudang-gudang di Pantai Utara (Pantura), seperti Cirebon, Indramayu, Karawang, Subang, ke daerah-daerah yang panennya tidak banyak, seperti Bandung Raya, Cianjur, dan Ciamis. Menurutnya, penggeseran stok itu tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan daerah-daerah lain, tetapi juga sebagai persiapan menyerap panen wilayah Pantura, yang segera bergulir. Apabila wilayah Pantura Jabar memasuki masa panen, Alip menyatakan, stok beras Jabar bertambah. “Tahun ini, proyeksi penyerapan mencapai 400 ribu ton,” cetusnya.

Berkenaan dengan pengendalian harga, Alip mengemukakan, pihaknya tetap mengandalkan jurus utamanya, yaitu program beras bagi masyarakat miskin (raskin). Penyaluran raskin tahun ini, sahut Alip, sebesar 39 ribu ton per bulan. Untuk tahun ini, seru Alip, penyaluran raskin bergulir pada Januari-Februari. Bahkan, untuk lebih mengendalikan harga, bersama jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, pihaknya segera rapat koordinasi. Tujuannya, jelas dia, mempercepat penyaluran raskin.

Soal operasi pasar, Alip menegaskan, pada dasarnya, pihaknya siap menggulirkan program itu. “Kapan saja OP, Insyaallah kami siap. Itu karena kami punya stok yang Insyaallah tergolong aman,” ucapnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Jabar, Ferry Sofwan Arief, menambahkan, tentang OP, seluruh kota-kabupaten dapat mengajukannya kepada 7 sub-divre Bulog. “Kalau pun mau mengajukannya langsung kepada Bulog Divre Jabar, silakan,” tambah Ferry.

Ferry berpendapat, tidak ada batasan maksimal kenaikan harga beras apabila kota-kabupaten hendak mengajukan OP. Diutarakan, apabila terjadi kenaikan harga beras 5 persen saja, sebuah daerah dapat mengajukan OP. “Jangan tunggu harga naik hingga 30 persen,” tutup Ferry.  (ADR)

Related posts