Agung: “Suku Bunga Masih Jadi Kendala”

Ketua Kamar Dagang dan Industri Jabar 2013-2018, Agung Suryamal Soetisno.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Jabar 2013-2018, Agung Suryamal Soetisno.
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Dalam bidang ekonomi, banyak faktor yang memengaruhi laju pertumbuhan perekonomian. Satu di antaranya, dalam hal jasa keuangan. Adalah suku bunga perbankan di Indonesia, yang dianggap banyak kalangan, masih menjadi salah satu kendala pertumbuhan ekonomi.

Ketua Kadin Jabar, Agung Suryamal Soetisno, menilai, suku bunga perbankan di Indonesia tergolong tinggi. Menurutnya, tingginya suku bunga adalah kendala yang sangat serius bagi para pelaku usaha. “Memang, masalah ini (suku bunga) sangat menyulitkan. Jika kita bandingkan dengan negara lain, suku bunga di Indonesia tergolong tinggi,” tandas Agung usai peresmian Menara Kadin Jawa Barat, Jalan Sukabumi Bandung, belum lama ini.

Agung mengemukakan, di Indonesia, rata-rata, suku bunga perbankan sekitar 12-15 persen. Lain halnya dengan negara-negara lainnya, ASEAN sebagai contohnya. Di negara-negara ASEAn, suku bunganya satu digit, sekitar 7 persen. “Ada range yang jauh. Jadi, kami sangat setuju apabila suku bunga kembali turun. Ini dapat lebih menggerakkan roda ekonomi,” tutur Agung.

Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, menyatakan, pihaknya meminta pemerintah pusat supaya mendukung dan memiliki keberpihakan kepada pelaku usaha. Salah satu bentuk keberpihakan itu, jelasnya, adalah turunnya Suku Bunga Bank Indonesia (SBI). Aher, sapaan akrabnya, menilai SBI masih memberatkan para pelaku usaha. “Itu berpengaruh pada daya saing. Terlebih, kompetisi makin ketat pada era AEC (ASEAN Economic Community),” tuturnya.

Aher berpendapat, apabila SBI kembali turun, hal itu menjadi pendorong para pelaku usaha sehingga lebih berkembang. Sependapat dengan Agung, Aher megatakan, suku bunga Indonesia lebih besar daripada suku bunga di negara-negara ASEAN lainnya.

Memang, ucap Aher, suku bunga yang tinggi merupakan upaya menekan inflasi. Faktanya, walau inflasi dapat tertekan dan terkendali, tingginya suku bunga sangat menyulitkan perkembangan para pelaku usaha. Efek secara lebih luasnya lagi, tambahnya, kondisi itu mengganggu pertumbuhan roda ekonomi. “Lebih baik, turunkan suku bunga. Saya kira, lebih baik inflasi sedikit naik akibat suku bunga turun tetapi perekonomian bergerak,” tutup Aher. (ADR)

Related posts