2019, Indonesia Produksi Pesawat Komersil

Dr Ing Ilham A Habibie MBA.
Dr Ing Ilham A Habibie MBA.

JABARTODAY.COM – BANDUNG
Ternyata, negara ini memiliki kemampuan luar biasa dalam dunia kedirgantaraan. Buktinya, republik ini punya industri yang mampu membangun dan memproduksi pesawat terbang. Satu contohnya, adalah CN-235, yang merupakan produk asli PT Dirgantara Indonesia (DI).

Dalam beberapa tahun mendatang, Indonesia sepertinya memiliki perusahaan yang juga mampu memproduksi pesawat. Adalah PT Regia Aviasi Industri (RAI), yang siap membangun dan memproduksi pesawat komersil. Proyeksinya, perusahaan yang dimiliki Presiden Republik Indonesia (RI) ke-3, BJ Habibie, yaitu Ilham Habibie, tersebut memproduksi pesawat komersil pada 2019, yaitu R-80.

“Kami mendapat pemesanan cukup banyak. Jumlahnya 145 unit. Ada sekitar 3 maskapai nasional yang memesan. Yaitu Nam Air, yaitu anak perusahaan Sriwijaya Air. Mereka memesan 100 unit. Lalu, Kaistar sebanyak 20 unit, dan Trigana Air sejumlah 25 unit. Proses produksi mulai kami gulirkan pada 2019,” tandas Komisaris PT RAI, Ilham Habibie, beberapa waktu lalu.

Diutarakan, R-80 memiliki kemampuan cukup mumpuni. Pesawat berharga 22-25 juta Dollar Amerika Serikat (AS) per unit tersebut berkapasitas angkut 80-90 orang penumpang. Kemampuan jarak tempuhnya, lanjut dia, hingga 1.000 kilometer. Akan tetapi, katanya, pihaknya mengkhususkan pesawat itu untuk rute jarak dekat, yaitu tidak melebihi 400 kilometer.

Pihaknya beralasan mengapa memproduksi pesawat kecil. Menurutnya, pesawat tersebut sesuai dengan karakter Indonesia, yang sejauh ini, belum punya transportasi darat yang terpadu. Di Indonesia, jelas dia, masih banyak daerah yang infrastruktur transportasinya belum memadai sehingga butuh waktu tempuh lama. Contohnya, sebut dia, Surabaya-Banyuwangi. Jika menggunakan jalur darat, waktu tempuh Surabaya-Banyuwangi sekitar 8 jam. Sedangkan apabila menggunakan pesawat, hanya butuh waktu 45 menit.

Soal Jabar, Ilham menilainya sebagai sebuah pasar yang cukup terbuka. Dia menyebut sebuah bandar udaha kecil di Pangandaran. Apabila pembangunan mega proyek Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) tuntas dan resmi beroperasi, bandara di Pangandaran itu terhubung dengan bandara di Kertajati, Majalengka, tersebut. “Jadi, R-80 menghubungkan BIJB dengan Pangandaran,” kata dia, seraya menyatakan, bahwa pihaknya pun berencana memproduksi pesawat militer, yang pelaksanaannya pada 2020. (ADR)

Related posts