Home » Nasional » Industri Nasional Bisa Lewati Cina

Industri Nasional Bisa Lewati Cina

Wakil Ketua Umum Bidang Riset dan Teknologi Kadin Indonesia, Dr Ing Ilham A Habibie MBA.

Wakil Ketua Umum Bidang Riset dan Teknologi Kadin Indonesia, Dr Ing Ilham A Habibie MBA.

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Untuk menopang laju pertumbuhan ekonomi, keberadaan industri menjadi salah satu unsur penting. Namun, agar komoditi dan produk industri nasional dapat bersaing, perlu adanya dukungan berbagai hal. Diantaranya, riset dan teknologi.

“Benar. Untuk menopang dunia usaha, termasuk industri, perlu adanya riset dan teknologi. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, dan daya saing produk dalam era persaingan yang kian ketat,” ujar Wakil Ketua Umum Bidang Riset dan Teknologi Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Dr Ing Ilham A Habibie MBA, pada Rapat Kerja Nasional Bidang Riset dan Teknologi Kadin Nasional di kawasan Dago Pakar Bandung, akhir pekan lalu.
Putra mantan Presiden RI ke-3 BJ Habibie ini meneruskan, peran riset dan teknologi sangat besar dalam mendorong perkembangan industri nasional. Diantaranya, dalam hal pemanfaatan teknologi informatika. “Perannya sangat penting. Ini (TI) dapat berfungsi sebagai sarana informasi mengenai perkembangan industri, termasuk potensi pasar dan persaingan secara global, sehingga dapat membuat industri-industri nasional melakukan berbagai persiapan agar lebih berdaya saing,” paparnya.

Menurutnya, besarnya peran riset dan teknologi terbukti pada negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, negara Eropa, semisal Jerman. “Mereka melakukan penelitian, tidak hanya kualitas produk, tetapi juga pangsa pasarnya,” sambung Ilham.
Namun, tuturnya, sejauh ini industri-industri di Indonesia belum melakukan pemanfaatan dan pengoptimalan riset serta teknologi. Diakuinya, hal yang hingga saat ini menjadi salah satu titik lemah industri nasional adalah pemanfaatan industri terapan.
Padahal, industri nasional berpeluang dapat melewati Cina. Ada beberapa hal, jelas Ilham, yang dapat membuat hal itu terjadi. Antara lain, sebutnya, secara demografi, Cina tidak mendukung. Lalu, sambungnya, utang Cina melebihi Indonesia. “Jika utang Indonesia sekitar 30 persen PDB, Cina hampir 200 persennya. Itu terjadi karena Cina terlalu mengandalkan eskpor yang kurang sustainable sebagai akibat kurang demoratisnya negara itu,” urai Ilham.
         
Melihat hal itu, ujarnya, hal itu sebenarnya dapat menjadi pelecut bagi para pelaku industri nasional untuk terus meningkatkan kinerjanya, yakni melalui pengembangan riset dan teknologi. Terlebih, imbuhnya, Indonesia menjadi satu di antara tiga negara dunia yang menjadi destinasi investasi. (VIL)

Komentar

komentar