Tuntut Maksimal Pelaku Penusukan Anggota Kopassus

  • Whatsapp
Terdakwa penusukan anggota Kopassus, Marsel Gerald Akbar, mendengar tuntutan jaksa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa (6/12). (jabartoday/avila dwiputra)
Terdakwa penusukan anggota Kopassus, Marsel Gerald Akbar, mendengar tuntutan jaksa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa (6/12). (jabartoday/avila dwiputra)

JABARTODAY.COM – BANDUNG Pelaku penganiayaan anggota Korps Pasukan Khusus (Kopassus), Prajurit Satu Galang, yakni Marsel Gerald Akbar, dituntut maksimal oleh jaksa penuntut umum, karena terbukti melakukan penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal dunia.

Dalam persidangan di Ruang VI Pengadilan Negeri Bandung, Selasa (6/12), Jaksa Penuntut Umum Yudhi Kurniawan menganggap terdakwa melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 170 ayat (2) KUHP tentang penganiayaan. “Meminta kepada majelis hakim yang berwenang menyidangkan perkara ini untuk menjatuhkan pidana penjara selama 12 tahun kepada terdakwa,” ucap Yudhi, dalam pembacaan tuntutannya, di hadapan majelis hakim yang diketuai Kartim Haeruddin.

Terdakwa Marsel merupakan satu dari sekitar 20 orang pelaku pengeroyokan yang berujung dengan penusukan Pratu Galang. Jaksa juga menuturkan kronologis insiden yang terjadi pada Minggu (5/6) pukul 02.40, di Jalan Sudirman oleh sekelompok orang yang merupakan anggota geng bermotor inisial B.
“Terdakwa Marsel bersama Ridwan, Eki, Eri (masing-masing berkas terpisah), serta Rius, Arjun, Cempreng, Gelung, Endog, Gepeng, Kentung (DPO), dan anggota lainnya dengan total sekitar 20 orang tengah mencari anggota kelompok G dengan cara berkonvoi menggunakan sepeda motor,” tutur Yudhi.

Yudi meneruskan, di bundaran Jalan Sudirman, perbatasan Kota Bandung dan Kota Cimahi, mereka disalip korban dan hampir menyerempet salah satu kendaraan kelompoknya. Merasa diserang, korban dikejar dan dipepet yang kemudian dihentikan terdakwa Marsel. Namun, korban lakukan perlawanan yang berujung dengan pengeroyokan. Kemudian Marsel berkali–kali melayangkan pukulan ke arah dada dan muka korban dengan tangan kosong bersama beberapa pelaku lainnya, dan menusukkan senjata tajam hingga korban mengalami luka parah sebelum meregang nyawa. “Eri (terdakwa lain) menusuk dua kali pada punggung korban. Eki menusuk ke bagian perut. Gepeng, Cempreng, Kentung, Gelung, serta pelaku lainnya memukul menendang dan menusukkan senjata tajam kepada korban,” tutur Yudi.

Usai korban terjatuh tak berdaya, para pelaku meninggalkannya begitu saja. Akibat perbuatan tersebut, Galang mengalami empat luka robek di sekitar punggung dan luka lecet serta lebam di daerah dahi dan pelipis, sesuai dengan hasil visum yang dikeluarkan Rumah Sakit Dustira Cimahi.

Terhadap tuntutan tersebut, terdakwa mengajukan pledoi atau nota pembelaan yang akan dibacakan pada sidang selanjutnya, Selasa (13/12). Usai sidang, terdakwa langsung digiring ke ruang tahanan dengan tangan terborgol.

JPU Yudhi menjelaskan, tuntutan tinggi yang dikenakan kepada pemuda tersebut, untuk memberikan efek jera agar orang yang berniat melakukan perbuatan serupa, mengurungkan niatnya. “Kita lihat kejahatan jalanan, seperti begal, sudah cukup merajalela di Kota Bandung. Jadi, ini sebagai peringatan kepada pelaku lainnya,” tutur Yudhi yang juga Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Bandung ini. (vil)

Related posts