Transportasi Penyumbang Deflasi Tertinggi

BPSJABARTODAY.COM – BANDUNG  Adanya putusan pemerintah yang kembali menurunkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, yang sebelumnya Rp 8.500 per liter menjadi Rp 6.700 per liter, sehingga menyebabkan turunnya indeksi beberapa kelompok, seperti jasa keuangan, transportasi, dan sebagainya, membuat Jabar mengalami deflasi. Terjadinya deflasi tersebut berdasarkan survey Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar di tujuh kota tatar Pasundan.

“Selama Januari tahun ini, deflasi Jabar sebesar 0,37 persen. Itu mengacu pada survey yang kami lakukan di tujuh kota Jabar,” tandas Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jabar, Dody Gunawan Yusuf, di kantor BPS Jabar, Jalan PHH Mustopha Bandung, belum lama ini.

Menurutnya, pendapataan yang mencakup 7 kota pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) Gabungan di Jabar, hasilnya menunjukkan, IHK, yang pada Desember 2014 sebesar 117,81, pada Januari 2015 turun menjadi 117,37, atau mengalami deflasi 0,37 persen.

Kondisi itu, lanjut Dody, selama 2015, Jabar mengalami inflasi 0,37 persen. Sedangkan inflasi year on year (yoy), yaitu Januari 2014-Januari 2015, inflasi yang terjadi di Jabar sebesar 6,16 persen.

Berbicara tentang survey tujuh kota di Jabar, Dody mengutarakan, kota-kota itu mengalami deflasi. Yang tertinggi, sebutnya, yaitu Kota Bogor. Kota Hujan mengalami deflasi 1,22 persen. Disusul Depok sejumlah 0,71 persen. Lalu, tambahnya, Kota Sukabumi sebesar 0,41 persen, Kota Tasikmalaya sebanyak 0,30 persen. “Berikutnya, Kota Cirebon sebesar 0,13 persen, Kota Bekasi 0,17 persen, dan terakhir, Kota Bandung 0,05 persen,” sebutnya.

Kelompok paling berkontribusi dalam terjadinya deflasi, sahut Dody, yaitu transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Kontribusi kelompok tersebut, tukasnya, yaitu 4,15 persen. Sementara komoditi yang menjadi kontributor terbesar terjadinya inflasi yaitu premium, angkutan kota, solar, dan angkutan antarkota. (ADR)

 

 

Related posts