Tawarkan PSK via Twitter

Kedua pelaku prostitusi daring diamankan Ditreskrimsus Polda Jabar. Keduanya menjajakan perempuan melalui media sosial.
Kedua pelaku prostitusi daring diamankan Ditreskrimsus Polda Jabar. Keduanya menjajakan perempuan melalui media sosial.

JABARTODAY.COM – BANDUNG Modus prostitusi daring masih cukup marak di Indonesia. Terbukti dengan ditangkapnya pelaku prostitusi tersebut oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Barat, yakni MNU (25) dan MIR (21), warga Jakarta yang menawarkan perempuan muda kepada lelaki hidung belang. Kedua orang ini setidaknya memiliki 19 anak buah yang siap datang bila ada panggilan dari pelanggan.

’’Keduanya menawarkan perempuan panggilan untuk level menengah ke bawah melalui akun twitter Bandung Agency @agencyladies,” kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Ajun Komisaris Besar Dicky Budiman, di Mapolda Jabar, Kamis (1/9).

Dicky mengungkap, para gadis muda koleksi dua mucikari ini berasal dari beragam profesi, seperti mahasiswi hingga sales promotion girl (SPG). Kisaran harga mereka mulai Rp.1,5 juta untuk short time dan Rp 5 juta untuk long time. Dari tiap transaksi, kedua pelaku memeroleh komisi sebanyak 30 persen.

’’Dalam setiap transaksi kedua orang ini menerima uang muka antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Untuk sisa pembayaran, pelanggan memberikannya kepada PSK yang bersangkutan dan selanjutnya komisi diserahkan PSK kepada germo,” terang mantan Kepala Bagian Operasional Polrestabes Bandung tersebut.

Para PSK itu tersebar di beberapa kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, hingga Bali.
Penangkapan, seperti dituturkan Dicky, diawali dari komunikasi melalui twitter oleh anggota Ditreskrisus. Melalui media sosial tersebut, petugas berpura-pura memesan perempuan dan bertemu di sebuah hotel di Kota Bandung. ’’Saat transaksi, anggota menangkap pelaku MNU, kemudian MIR,” tukas dia.

Tak hanya kedua pelaku, petugas juga mengamankan sembilan orang PSK, namun mereka masih berstatus saksi korban. Dari tangan kedua tersangka, polisi menyita sejumlah telepon genggam, buku tabungan, kartu ATM, dan alat kontrasepsi.

Atas bisnis haramnya tersebut, kedua tersangka dijerat Pasal 27 ayat (1) jo. Pasal 45 ayat (1) UU No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Transaksi Elektronik, Pasal 4 ayat (2) huruf d, Pasal 30 UU No 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi, Pasal 296 KUHP, dan Pasal 506 KUHP. (dva)

Related posts