
JABARTODAY.COM – Indonesia harus menyambut baik apresiasi pujian yang diberikan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutteres dan dukungan Uni Eropa melalui Menlu atas peran strategis Indonesia dalam penyelesaian dan penanganan krisis Rohingya.
Pendapat itu disampaikan Anggota Dewan Pakar DPP Nasdem T. Taufiqulhadi kepada Jabartoday.com di Jakarta, Selasa (5/9) ketika ditanya tanggapannya terkait penyelesaian krisis yang menimpa etnis Rohingya.
“Apresiasi dari komunitas internasional tersebut merupakan bentuk dukungan diplomatik dan kepercayaan dunia Internasional kepada Indonesia sebagai ‘leading actor’ di ASEAN. Indonesia harus menyambutnya dengan positif,” pinta Taufiqulhadi.
Menurut anggota DPR Fraksi Nasdem ini, Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara harus terus berkomitmen membantu penyelesaian krisis Rohingya ini melalui langkah-langkah terukur dan sistematis. Itu bisa dilakukan dengan berbagai jalur yang sudah ada, baik dengan jalur diplomasi dengan mengutus Menlu ke Myanmar dan Bangladesh, melakukan komunikasi intensif dengan Komisi Khusus untuk Rakhine State Kofi Annan, pemberian bantuan terbaik dan menampung pengungsi serta pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.
Ia mendukung langkah Presiden Jokowi yang menegaskan sikap Indonesia terhadap tragedi kemanusiaan Rohingya dengan aksi nyata Pemerintah Indonesia bersinergi bersama kekuatan masyarakat sipil Indonesia dan juga masyarakat internasional.
“Krisis Rohingya sudah menjadi tragedi kemanusiaan yang secara etis dan politik menuntut dunia internasional untuk melakukan intervensi kemanusiaan. Negara-negara ASEAN tidak bisa berlindung di balik prinsip menghormati kedaulatan Myanmar atas tragedi ini,” tegas Taufiqulhadi.
Ia sangat merisaukan kondisi Rohingya yang telah menjadi etnis yang tertindas secara politik selama puluhan tahun di Myanmar dan menjadi tidak berkewarganegaraan (stateless) sehingga terpaksa menjadi pengungsi ke berbagai negara. Asia Tenggara selama beberapa tahun terakhir– lanjut Taufiqulhadi, — menjadi salah satu kawasan transit pengungsi yang dipicu oleh terjadinya konflik dan penindasan di beberapa tempat.
“Di kawasan ini diperkirakan ada belasan juta pengungsi yang menjadi korban sindikat perdagangan manusia. Indonesia juga menjadi salah satu negara tujuan etnis Rohingya melakukan pengungsian,” jelasnya.
Krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya ini menjadi masalah internasional dan khususnya mendapatkan perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah Indonesia sebagai tetangga negara Myanmar dan sebagai sesama negara anggota Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN). (jos)





