Monday , 30 March 2020
Home » Ekonomi » Tahun Ini, Properti Berpotensi Tumbuh

Tahun Ini, Properti Berpotensi Tumbuh

rumahJABARTODAY.COM – BANDUNG — Tahun lalu, kondisi ekonomi nasional mengalami pelemahan. Itu terjadi sebagai efek kondisi global, yang salah satu dampaknya adalah terderpresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Akibatnya, hampir seluruh sektor ekonomi mengalami perlambatan pertumbuhan, termasuk properti.

Memasuki 2016, prediksinya, perekonomian membaik. Beberapa kalangan pelaku usaha sektor properti yang tergabung dalam DPP Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (AP2ERSI) memprediksi, bisnis perumahan, khususnya, perumahan rakyat, tahun ini, masih berpotensi mengalami pertumbuhan. “Saya kira, untuk perumahan rakyat, potensi pertumbuhannya terbuka pada tahun ini. Itu karena adanya beberapa paket kebijakan yang diterbitkan pemerintah,” tandas Ketua DPP AP2ERSI, Ferry Shandyana, Jumat (5/2).

Menurutnya, agar sektor perumahan rakyat lebih menggeliat, pihaknya berharap pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR), lebih pro-aktif dan mendorong sektor tersebut. Misalnya, menerbitkan kebijakan yang memudahkan dan menunjang pertumbuhan perumahan rakyat.

Lain halnya dengan perumahan menengah. Ferry berpendapat, tahun ini, kemungkinan besar, perumahan kelas menengah masih cukup berat. Itu karena, jelasnya, adanya perkembangan kondisi dan situasi ekonomi yang berkaitan dengan hal tersebut. Misalnya, jelas dia, makin tingginya harga jual lahan atau tanah.

Soal program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), Ferry belum dapat berkomentar lebih jauh. Namun, Ferry mengaku bingung berkaitan dengan program tersebut. “Sejauh ini, untuk pemenuhan kebutuhan rumah para pekerja atau buruh, kan teraspirasikan oleh adanya program BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Tenaga Kerja. Badan itu memiliki program perumahan. Apalagi, informasi yang saya terima, skema Tapera tidak jauh berbeda dengan BPJS Tenaga Kerja, yaitu iuran pekerja sebesar 2,5 persen bersumber pada upah pekerja dan 0,5 persen dari pemberi kerja,” paparnya.

Karenanya, berkenaan dengan masalah Tapera, ucap Ferry, pihaknya berencana untuk melakukan pengkajian lebih lanjut. “Tentunya, kami segera melakukan pembicaraan dan pembahasan mengenai hal tersebut,” tutupnya. (ADR)