Berbagai upaya dilakukan sejumlah industri, termasuk yang bergerak dalam bidang farmasi, untuk meningkatkan kinerja bisnisnya, termasuk memenuhi kebutuhan publik. Hal itu pun digulirkan PT Kimia Farma.
“Satu diantaranya, kami siap memproduksi garam farmasi. Itu kami canangkan karena pabrik di Watudakon, Jombang, Jatim itu siap memproduksi garam farmasi. Kapasitas produksinya 3.000-4000 ton per tahun,” ujar Direktur Riset dan Pengembangan Bisnis PT Kimia Farma, Wahyuli Syafari, usai Seminar Nasional Quadrule Helix Tingkatkan Daya Saing Industri Farmasi Nasional di Kampus Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran, belum lama ini.
Menurutnya, beroperasinya pabrik garam farmasi di Jatim itu, setidaknya dapat meminimalisir kebergantungan impor. Diutarakan, siap berproduksinya pabrik garam farmasi yang sebenarnya, inisiasinya sejak 1987 dan menghabiskan dana Rp 30 miliar, itu merupakan sebuah hal positif. Pasalnya, jelas Wahyu, sapaan akrabnya, sejauh ini, untuk memenuhi kebutuhan garam farmasi, harus melalui pintu impor. Jika terealisasi, cetus dia, pihaknya fokus pada pemenuhan kebutuhan lokal.
Berbicara tentang tingkat kebutuhan garam farmasi, khususnya, bagi industri farmasi di tanah air, Wahyu menyebutkan, volumenya tergolong tinggi. Setiap tahun, sebut dia, kebutuhannya mencapai 6.000 ton. Untuk memenuhinya, kata dia, perusahaan-perusahaan farmasi melakukan 100 persen impor dari Cina dan India.
Wahyu menyebutkan, kehadiran dan beroperasinya pabrik di Jatim itu pun dapat memberi efek ekonomi yang positif. Salah satunya, sahut dia, terlihat pada harga jual garam farmasi. “Pada level impor, harga jualnya Rp 9.000 per kilogram. Sedangkan jika sudah produksi sudah berlangsung, kami menetapkan harga jualnya Rp 6.000-7.000 per kilogram,” sebutnya.
Diungkapkan, beberapa waktu lalu, perusahaan-perusahaan farmasi diminta Menteri BUMN untuk memanfaatkan garam farmasi produk PT Kimia Farma. Karenanya, cetus dia, pihaknya optimis produk garam farmasi dapat terserap pasar.
Dasar lainnya, tambah dia, hingga kini, terdapat buyer yang siap membeli komoditi itu. Volumenya, ungkap dia, mencapai 3.200 ton. Hebatnya, beberapa negara Asia memesan garam farmasi tersebut. Adalah Korea Selatan (Korsel) sebagai satu di antaranya. “Pemesanan Korsel mencapai 1.500 ton per tahun,” seru Wahyuli.
Manfaat lain kehadiran pabrik itu, imbuhnya, dapat meningkatkan daya saing industri farmasi nasional dalam menyikapi banjirnya produk farmasi impor ketia gong Masyarakat Ekonomi Asean bergema pada 2015.
Berkenaaan dengan ketersediaan bahan baku, pakar Ekonomi dan Manajemen Unpad, Ernie Tisnawati Sule, menyatakan, potensinya melimpah. Untuk keperluan bahan bakunya, kata dia, pihaknya bekerjasama dengan pihak ketiga yang selama ini memproduksi garam lokal. “Tinggal bagaimana pemanfaatannya secara optimal,” sahut Ernie.
Dia berpendapat, sebaiknya, sebagai lembaga BUMN, PT Kimia Farma menjadi pelopor penggunaan bahan baku lokal pembuatan produk farmasi. Harapannya, cetus Ernie, produk garam farmasi tersebut dapat segera dinikmati dan dimanfaatkan masyarakat. (ADR)






