Syahrul Jihad

M. Rizal Fadillah

Di antara berbagai predikat bulan Ramadhan ada “Syahrul Jihad” bulan perjuangan. Satu bulan penuh ditempa dan diuji dalam arena perjuangan baik melawan hawa nafsu mengatasi gangguan shaum, maupun perjuangan mengembangkan dan menegakkan agama. Berjuang untuk mengangkat harkat dan derajat umat ke arah yang lebih terhormat. Syari’at yang dijalankan dan dijunjung tinggi.

Sejarah kenabian menunjukkan bahwa perjuangan umat Islam semakin hebat di bulan suci Ramadhan. Tidak sedikit peperangan dan kemenangan didapat di bulan suci Ramadhan di antaranya perang Badar melawan musyrikin Makkah dan perang Tabuk melawan Romawi.
Setelah masa Nabi pun banyak perjuangan dan kesuksesan didapat di bulan Ramadhan antara lain perang Zallaqah melawan pasukan kristen atau perang Ain Jalut melawan tentara Mongol. Perang Qadisiyah melawan Persia juga dimenangkan di bulan Ramadhan.

Benar jihad itu bukan hanya perang, akan tetapi pada perjuangan berat seperti perang yang mempertaruhkan nyawa saja dapat terjadi di bulan Ramadhan. Shaum tidak menghalangi bahkan meningkatkan semangat untuk berjihad dalam arti yang seluas-luasnya. Bisa “amwal” atau “anfus”, pendidikan, politik, ataupun budaya.

Jihad adalah semangat untuk memenangkan segala hal sesuai dengan keridloan Allah SWT dan tuntunan Rosulullah SAW. Berjuang untuk mengalahkan kezaliman dan menegakkan keadilan dengan kesiapan berkorban rasa, waktu, uang, ataupun tenaga.

Ramadhan saat shaum adalah momentum untuk berjihad (syahrul jihad). Melengkapi predikat yang telah melekat “syahrul ‘ibadah”, “syahrul qur’an”, “syahrul ghufron”, “syahrut tarbiyah” dan lainnya. Ramadhan bukan bulan kelemahan atau kecemasan, tetapi bulan kekuatan dan keceriaan. Bahagia menyongsong janji Allah untuk masa depan dunia dan akherat.

Agar hidup ini bermanfaat bagi diri dan agama maka kiranya ramadhan ini tidak tersia siakan. Membangun manfaat dan amal sholeh, tetap berda’wah, serta selalu berjihad menegakkan agama. Tidak terjebak hanya oleh urusan perut dan kesenangan semata.
Gaya hidup muslim adalah ideal dan kadang dicemburui orang tak beriman.

“Kadang orang-orang kafir menginginkan sekiranya mereka menjadi orang muslim. Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan mereka. Kelak mereka akan mengetahui akibatnya” (QS Al Hijr 2-3).

Marilah kita perkuat keimanan di bulan ramadhan ini. Bukan hanya menahan lapar dan syahwat tetapi tetap berjuang dan berkorban dalam rangka khidmah agama.

Ungkap Ahmad El Syauqi :

“Qif duuna ro’yika fil hayati mujahid. Innal hayaata ‘aqidatun wa jihadun”.

Jaga hidup sebagai mujahid, sesungguhnya hidup itu adalah akidah dan jihad.

*) Pemerhati Keagamaan

Bandung, 10 Mei 2020

Related posts