
jabartoday.com/erwin adriansyah
“Di Jabar, Senin (13/6), untuk OP Kepokmas, kegiatannya mulai bergulir di Kabupaten Sumedang. Kemudian diikuti daerah lain di Jabar. Lokasinya titik kegiatan yang dekat pasar tradisional. Tapi, OP itu tidak berlangsung di dalam komplek pasar supaya tidak ganggu aktivitas para pedagang pasar,” tandas Kepala Perum Bulog Divre Jabar, Alip Affandi, pada sela-sela OP Bulog di Graha Sativa Perum Bulog Jabar, Jalan Soekarnohatta Bandung, Senin (13/6).
Alip menjelaskan, OP Bulog peruntukannya bagi warga kurang mampu. Teknisnya, terang Alip, tidak ada subsidi harga jual. Walau begitu, sambungnya, pihaknya menetapkan harga yang lebih murah daripada harga pasar “Misalnya daging sapi. Kami menjualnya seharga Rp 80 ribu per kilogram. Padahal, harga pasarnya melebihi Rp 100 ribu per kilogram, ” tuturnya.
Tidak hanya daging sapi, ungkap Alip, jajarannya pun menyediakan daging ayam, yang harga jualnya Rp 31 ribu per kilogram. Untuk memenuhi kebutuhan, seru Alip, dalam OP yang terpusat di Bulig Divre Jabar dan berlangsung hingga 5 Juli 2016 atau H-1 Idul Fitri, pihaknya menyiapkan 40 ton daging ayam setiap harinya.
Soal OP Kepokmas, Kepala Humas Perum Bulog Divre Jabar, Abdul Hadi, menambahkan, kegiatan yang sumber dananya APBD Jabar ini adalah khusus bagi masyarakat miskin penerima program beras sejahtera (rastra). Hadi, sapaan akrabnya, menjelaskan, bersama Dinas Indag Jabar, pihaknya menetapkan harga jual dalam OP Kepokmas ini jauh lebih murah daripada harga pasar. Pasalnya, jelas Hadi, ada subsidi pemerintah.
Nilai subsidi, tukasnya, bervariasi. Untuk beras, kata Hadi, nilai subsidinya Rp 5 ribu per kilogram. Padahal, ucapnya, jenis berasnya premium, yang harga jual normalnya sekitar Rp 11-12 ribu per kilogram.
“Subsidi minyak goreng sebesar Rp 6 ribu per liter, subsidi gula pasir Rp 6 ribu per kilogram. Lalu, subsidi daging sapi segar lokal Rp 60 ribu per kilogram, daging ayam subsidinya Rp 17 ribu per kilogram. Sedangkan subsidi telur sebesar Rp 10 ribu per kilogram,” urainya. (ADR)





