Subsidi Dibatasi, Tarif Angkutan Naik 60 Persen

bbmJABARTODAY.COM – BANDUNG

Putusan dan kebijakan pemerintah untuk membatasi penjualan bahan bakar minyak bersubsidi jenis solar dapat menyebabkan multi player effect. “Dampaknya besar. Adalah jasa angkutan, baik barang maupun penumpang, yang sangat merasakan efek pembatasan tersebut,” tukas Sekretaris Jenderal DPP Organisasi Angkutan Darat, Andriansyah, Senin (4/8/2014).

Andri, sapaan akrabnya, menjelaskan, pembatasan penjualan solar bersubidi tersebut sangat berpotensi membuat tarif angkutan melejit signifikan. Menurutnya, kenaikan tarif angkutan sebagai efek pembatasan penjualan solar bersubsidi itu dapat mencapai 60 persen. “Bagi dunia transportasi dan angkutan, BBM merupakan komponen terbesar biaya operasional, yaitu mencapai 45 persen. Jika pemerintah membatasi penjualan BBM itu, tentunya, ini memberatkan angkutan. Otomatis, tarif naik. Jika tarif naik, masyarakat kecil yang selama ini menggunakan jasa angkutan pun merasakan akibatnya,” papar Andri.

Situasi seperti itu, lanjut Andri, dapat berakibat tingkat load factor semakin susut. Apabila load factor semakin susut, ucap Andri, kondisi itu membahayakan jasa angkutan. “Akibatnya, jasa angkutan di ambang kebangkrutan,” ujarnya.

Saat ini, tuturnya, beban jasa angkutan sudah berat. Pasalnya, jelas dia, selain cukup tergerus oleh pertumbuhan kendaraan pribadi yang luar biasa tingginya, juga beberapa hal lain. Karenanya, kata Andri, jasa angkutan butuh perhatian dan dukungan pemerintah. “Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, kebutuhan angkutan pun turut naik. Untuk itu, pemerintah perlu mendukung dan lebih memperhatikan angkutan massal,” sahut Andri.

Andri menilai putusan pembatasan penjualan BBM subsidi jenis solar itu kurang terkoordinasi secara baik dengan lembaga terkait lainnya, termasuk stake holder. Dia menyatakan, idealnya, pembatasan penjualan solar bersubidi itu lebih tepat bagi kendaraan pribadi, bukan angkutan umum.

Ketua Dewan Pertimbangan DPD Organda Jawa Barat Aldo F. Wiyana menambahkan, sejauh ini, kalangan pengusaha angkutan di tatar Pasundan belum memutuskan langkah berkenaan dengan putusan pembatasan penjualan BBM subsidi jenis solar. Itu karena, terang dia, pihaknya menunggu perkembangan.

Pastinya, tegas Aldo, putusan tersebut meresahkan para pelaku usaha transportasi. Apalagi, seru Aldo, pihaknya tidak mendapatkan sosialisasi mengenai SPBU mana yang masih melakukan penjualan solar subsidi 24 jam dan mana yang ada pembatasan. (ADR)

Related posts