
(jabartoday.com/erwin adriansyah)
JABARTODAY.COM – BANDUNG — Seperti biasa, menjelang dan selama Ramadan, terutama, Idul Fitri, kerap terjadi peningkatan kebutuhan beragam komoditi. Kondisi itu pun terjadi pada komoditi daging sapi.
Akan tetapi, masyarakat tidak perlu khawatir sulit memperoleh daging sapi, yang apabila pasokannya kurang, berpotensi menyebabkan harga jualnya naik. “Data yang Direktorat Jenderal Pengawasan Kesehatan Hewan (PKH) yang kami peroleh, ketersediaan daging impor hingga 18 Mei tahun ini mencapai 70.518 ton,” tandas Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf, belum lama ini, di Jalan Merdeka Bandung.
Syarkawi mengungkapkan, stok sebanyak 70.518 ton itu terdiri atas 116.417 ekor aapi potong bakalan atau equivalen dengan 23.167 ton daging. Kemudian, lanjutnya, ditambah oleh stok daging impor sebanyak 12.025 ton, dan 35.326 ton daging kerbau impor yang tersimpan pada gudang Perum Bulog.
Dilanjutkan, stok itu belum termasuk ketersediaan sapi potong lokal sebanyaj 366.620 ekor atau equivalen dengan 62.400 ton. Sedangkan prognosa kebutuhan daging periode Mei-Juni 2017 sebesar 106.407 ton. Melihat kondisi itu, tegas Syarkawi, semestinya, kebutuhan daging pada periode Mei-Juni tahun ini terpenuhi.
Situasi itu pun, ucapnya, semestinya, membuat harga daging tidak mengalami kenaikan. “Nah, apabila terjadi kenaikan harga, berarti, indikasinya, ada semacam kenakalan yang dilakukan oknum-oknum tidak bertanggung jawab,” tegas Syarkawi.
Karenanya, seru Syarkawi, pihaknya meningkatkan pengawasan seluruh feedloater yang menjadi pemasok rumah potong hewan (RPH). Apabila, sambungnya, menemukan indikasi kecurangan, pihaknya tidak segan bersikap tegas. “Sanksinya, dapat berupa teguran, denda, bahkan pidana,” pungkasnya. (win)





