
JABARTODAY.COM – BANDUNG Tidak ada pengertian khusus dari bedah buku. Namun demikian, secara sederhana bedah buku dapat diartikan sebuah kegiatan mengungkapkan isi suatu buku dengan memberikan saran terkait dengan kekurangan dan kelebihan buku tersebut menurut aturan yang berlaku.
Untuk itu, Sekretaris Daerah Kota Bandung Yossi Irianto sangat mengapresiasi kegiatan bedah buku. Sebab, secara umum melalui bedah buku dapat mudahnya memahami secara mendalam isi dari buku. “Manfaat yang dapat diperoleh dari bedah buku kita mendapat informasi mengenai suatu aktivitas yang dilakukan,” kata Yossi, di sela membuka acara Bedah Buku Panduan Sekolah Madrasah Ramah Anak, di Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung, Senin (22/5).
Yossi menjelaskan, bedah buku memberikan ruang yang lebih luas bagi para pembuat keputusan baik pemerintahan, swasta, maupun masyarakat. “Publik dapat mengetahui, memahami, dan mengevaluasi apakah kerangka hukum yang ada sudah dilaksanakan dengan adil. Poin pentingnya, dengan bedah buku bisa memberikan akses kepada publik untuk menyampaikan saran dan solusi dalam pembuatan kebijakan yang mewakili kepentingan bagi pencapaian hasil yang lebih baik,” ujar Yossi.
Dengan membaca orang menjadi cerdas. Dan, terpenting bisa mengembangkan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan. “Sebagai sebuah strategi untuk membangun kesejahteraan literasi akan menghadirkan konsep yang berkesinambungan dan berkeadilan,” sebut Yossi.
Pengaplikasian bedah buku tidak terlepas dari unsur-unsur yang ada dalamnya. Dalam pandangan Yossi, konten buku seperti buku yang berisikan perlindungan terhadap anak, literasinya harus mampu pula mencerdaskan anak. “Ini bedah buku keren, maka sekali lagi saya katakan perlu diapresiasi,” imbuh Yossi.
Pada APBD Perubahan, nanti pihaknya bakal mendorong pembelian buku sebanyak mungkin. Hal itu diperlukan agar pengayaan sumber bacaan semakin komplit. Bentuk ini wujud keberpihakan terhadap budaya baca agar makin meningkat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung Heri M. Djauhari menyatakan, banyaknya kegiatan bedah buku akan mendukung perpustakaan sebagai objek wisata dan edukasi badi anak-anak. “Kegiatan ini guna memotivasi para guru dan agar ditularkan kepada anak supaya sekolah menjadi tempat yang menyenangkan serta ada sinkronisasi dengan Bandung sebagai kota layak anak,” tukas Heri.
Dalam referensi Heri, sejauh ini
perpustakaan masyarakat dan kewilayahan, serta perpustakaan sekolah (pojok baca) didorong terus menerus agar mendapat perhatian. “Melalui membiasakan membaca 15 menit sehari, diharapkan target kota Bandung sebagai kota buku sejagat, bisa terwujud,” tutup Heri. (koe)





