Solar Dibatasi, Bisnis Angkutan Kelimpungan

bbmJABARTODAY.COM – BANDUNG

Belum lama ini, pemerintah menerbitkan kebijakan mengenai pembatasan pembelian bahan bakar minyak bersubsidi jenis solar. Pada tahap pertama, pembatasan itu berlaku di wilayah Jakarta dan sekitarnya, mulai 1 Agustus 2014. Kemudian, pada 4 Agustus 2014 di beberapa daerah, termasuk Jawa Barat.

Alasan pembatasan tersebut, ketersediaan BBM subsidi jenis tersebut yang kian menipis. Adanya pembatasan tersebut, berarti, para konsumen solar bersubsidi harus beralih pada solar non-subsidi, yaitu Pertamina DEX (Diesel Extra).

Tentunya, langkah dan kebijakan tersebut dapat berimbas pada sektor jasa angkutan. Ketua Himpunan Pengusaha Travel Kota Bandung Andrew Arristianto mengungkapkan, pada dasarnya, para pebisnis jasa angkutan dan travel tidak mengetahui adanya hal tersebut. “Kami mengetahuinya dari teman-teman media,” singkat Andrew, Jumat (1/8/2014).

Dikatakan Andrew, adanya kebijakan tersebut, para pebisnis travel bingung. Pasalnya, jelas dia, sejauh ini, mereka belum mengetahui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mana saja yang menjual Pertamina DEX di Kota Bandung dan sekitarnya.

Menurutnya, untuk mengantisipasi hal tersebut, para pengusaha jasa angkutan, kemungkinan besar melakukan pembelian solar subsidi sebelum pukul 18.00 yaitu batas waktu terakhir membeli solar subsidi pada SPBU-SPBU. “Mau tidak mau, seperti itu,” tuturnya.

Dikatakan, apabila pada akhirnya pemerintah benar-benar melakukan pelarangan pembelian solar subsidi dan mengalihkannya pada non-subsidi, kondisi itu dapat berpengaruh pada hal lainnya. Diantaranya, ungkap dia, sangat mungkin, para pebisnis travel melakukan penyesuaian tarif. “Jika begitu, tentunya, load factor pun terpengaruh, yaitu berpotensi turun,” sahut dia.

Namun, lanjutnya, para pelaku bisnis jasa angkutan sulit berbuat banyak selain menyuarakan keberatannya atas pembatasan pembelian atau bahkan penghapusan solar subsidi. “Apabila, kebijakannya seperti itu, para pebisnis akhirnya, harus mengikutinya. Pastinya, kami harus melakukan kalkulasi ulang,” tutup Andrew. (ADR)

Related posts