Soal Upah, Ini yang Dibutuhkan Industri Garmen

  • Whatsapp
(jabartoday.com/ISTIMEWA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Belum lama ini, pemerintah menetapkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2019 sebesar 8,03 persen. Kalangan pekerja, yang tergabung dalam beberapa serikat, satu di antaranya, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), meolak kenaikan itu.

Alasannya, penetapannya berdasarkan Peraturan Pemerintah 78/2015. Kalangan serikat pekerja, mengajukan penuntutan kenaikan UMP 2019 sebesar 25 persen, ingin penetapan kenaikan UMP 2019 berdasarkan UU 13/2003.

Menanggapi hal itu, Ketua Badan Pengurus Provinsi (BPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Dedy Widjaja, menilai penuntutan kenaikan upah 25 persen sangat memberatkan, terutama bagi industri garmen.

“Saat ini, industri garmen Jabar dalam kondisi yang sangat berat. Selama dua tahun terakhir, penetapan nilai upahnya secara khusus. Nilainya pun di bawah upah minimum kota-kabupaten (UMK),” tandas Dedy, di kawasan Jalan Pasirkoja Bandung, Senin (22/10).

Menurutnya, kenaikan 25 persen seperti yang dituntut kalangan pekerja, bagi industri garmen, sangat memberatkan. Dia mengatakan, kalau terjadi kenaikan, nilainya bukan pada nominal UMK yang berlaku saat ini.

Misalnya, jelas Dedy, jika UMK senilai Rp 2.000.000, upah pekerja industri garmen sejumlah Rp 1.750.000. Kenaikannya, sambung Dedy, bukan dari Rp 2.000.000, melainkan Rp 1.750.000.

Dedy mengutarakan, apabila kenaikannya berdasarkan nominal UMK yang berlaku, industri garmen Jabar kian terancam keberadaannya. “Saat ini, garmen Jabar hanya punya 2 opsi, tutup atau relokasi. Belum lama ini, 2 industri garmen di Purwakarta, yang total pekerjanya sekitar 4 ribu orang, stop produksi karena tidak sanggup lagi menanggung beban,” paparnya.

Dedy betpendapat, agar industri garmen Jabar terselamatkan, perlu ada regulasi pengupahan khusus yang diterbitkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar. Jika tidak, sahut dia, ada kemungkinan, industri garmen di Jabar stop produksi atau relokasi.  (win)

Related posts