Rupiah Melemah, Eksportir Sumringah

dollarJABARTODAY.COM – BANDUNG — Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah terpuruk. Pada penutupan Kamis (12/3) siang, sekitar pukul 12.00, rupiah berada pada level Rp 13.220 per Dollar Amerika Serikat (AS). Sejumlah pengamat menilai kondisi ini dapat berpengaruh pada perekonomian nasiona. Di antaranya, terjadinya inflasi.

Inflasi terjadi akibat masih banyaknya industri di tanah air yang mengimpor bahan baku dalam proses produksinya. “Memang benar. Pelemahan rupiah dapat menyebabkan inflasi.Tapi, Bank Indonesia (BI) sudah melakukan berbagai upaya mengendalikan inflasi. Di antaranya, turunnya suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis point atau menjadi 7,50 persen,” tandas Assistant Vice President PT Valbury Asia Furutures, Ervan Permadi, di tempat kerjanya, Jalan Dipenogoro Bandung, Kamis (12/3).

Menurutnya, pelemahan rupiah ibarat dua mata pisau, yaitu satu sisi berefek positif, sisi lainnya negatif. Sisi negatifnya, jelas Ervan, berpotensi menimbulkan inflasi. Sisi positifnya, pelemahan rupiah memberi advantage (keuntungan) bagi para eksportir.

Dalam hal bursa perdagangan pun, kata Ervan, pelemahan rupiah berefek mix, yaitu positif dan negatif. Masyarakat yang ingin meraih keuntungan dalam perdagangan saham, ujar Ervan, sebaiknya memilih saham-saham perusahaan yang berorientasi ekspor.

Pada sisi lain, tambah Ervan, di balik pelemahan rupiah terhadap Dollar AS, justru Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan. Saat ini, sebutnya, IHSG berada pada level 5.427 point. Bahkan, pada pekan lalu, berada pada posisi tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 5.514 point. Menurutnya, ini menunjukkan perdagangan dan struktur ekonomi nasional dalam kondisi baik.

Soal penyebab pelemahan rupiah, Ervan menjelaskan, situasi ini terjadi karena Dollar AS mengalami penguatan. Indeksnya, kata dia, mencapai 100 point. Ini merupakan, ucapnya, sebuah kondisi yang jarang terjadi. Biasanya, tukas Ervan, indeksnya sekitar 95-97 point,

Transaksi perdagangan di AS pun bagus. Selain itu, ungkap Ervan, adanya renana Bank Sentral Amerika yang untuk menaikkan tingkat suku bunganya pada periode Juni-Juli tahun ini. “Jadi, itu yang menyebabkan rupiah melemah. Sebenarnya, kondisi ini bersifat major currency. Artinya, berdampak pada terjadinya pelemahan sejumlah mata uang lainnya, termasuk euro,” pungkas Ervan. (ADR)

Related posts