Produk Garam Lokal Belum Cukupi Kebutuhan

jabartoday.com/net
jabartoday.com/net

JABARTODAY.COM – BANDUNG – Ternyata, pemenuhan kebutuhan garam tidak hanya oleh kalangan rumah tangga, tetapi juga dunia industri, yaitu makanan, kimia, dan farmasi. Berdasarkan data Badan Pengurus Pusat (BPP) Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), rata-rata produksi garam di negara ini sebeanyak 1,6 juta ton per tahun. Angka itu jauh di bawah kebutuhan garam, yang totalnya sebanyak 3,5 juta ton per tahun.

Berdasarkan data tersebut, Indonesia membutuhkan impor garam sebesar 2,1 juta ton per tahun. Angka itu terdiri atas 1,7 juta ton garam untuk pemenuhan industri kimia dan farmasi. Lalu, 400 ribu ton per tahun guna memenuhi kebutuhan industri makanan.

“Meningkatkan produksi garam nasional bukan perkara mudah. Untuk menambah sebesar 1,5 juta ton saja, setidaknya, butuh waktu sekitar 5 tahun. Itu karena ada beberapa hal yang menjadi kendala produksi garam di tanah air,” tandas Ketua Bidang Pengembangan Teknologi BPP AIPGI, Arthur Tanudjadja, Selasa (3/2).

Diutarakan, sejauh ini, total luas lahan pergaraman di tanah air seluas 19.658 hektare. Yang terluas, ucapnya, terdapat di Jatim, yaitu 11.867 hektare. Kemudian, Jateng, seluas 4.748 hektare. Berikutnya, Jabar seluas 1.716 hektare. Selanjutnya, Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar 1.052 hektare. “Lalu Sulawesi Selatan 1.025 hektare, Nusa Tenggara Timur (NTT) 950 hektare, dan Sulawesi Tengah seluas 300 hektare,” sebutnya.

Tentang Jabar, Arthur mengutarakan, produksi garam Jabar berlangsung di dua wilayah, yaitu Cirebon dan Indramayu Kapasitas produksinya, lanjut dia, sekitar 224 ribu ton per tahun. “Sekitar 80 persen produksinya, pemenuhannya bagi kalangan rumah tangga. Sisanya, bagi industri,” sahut dia. (ADR)

 

 

Related posts