Tuesday , 12 November 2019
Home » Headline » Politik itu Telah Membelah

Politik itu Telah Membelah

Oleh: Fathorrahman Fadli


Dimana mana politik kekuasaan yang picik selalu membelah masyarakat, kelompok, maupun tokoh. Kepentingan kekuasaan itu sering dipicu oleh nafsu busuk orang perorang. Ada yang nafsunya beradab, ada pula yang bejat.

Pada masyarakat yang beradab, politik dimaknai sebagai pintu gerbang berbuat kebajikan, amal sholeh dan wujud kecintaan pada nilai-nilai yang isoterik. Namun pada masyarakat yang berperadaban rendah, politik akan berwujud pertarungan sengit atas kue-kue kekuasaan yang menghauskan.

Tragedi, kebohongan, rakus, konyol, serta kedunguan akan membalutnya. Lalu dengan cara itu, masyarakat berperadaban rendah itu menyangka dirinya sudah merasa telah berbuat kebajikan. Walhasil, politik memang selalu membelah manusia dalam perjalanan sejarah mereka.

Meski nature politik itu dipenuhi dengan pertarungan antar kuasa; selayaknya nilai-nilai kebaikan bersama haruslah menjadi titik tumpunya. Mengapa, agar publik hidup dalam dinamika yang sehat. Publik itu tumbuh dalam  suasana yang kreatif, berpacu dengan kesadaran bahwa menjadi lebih baik dan sejahtera adalah kebutuhan bersama yang harus dirawat.

Orang atau kelompok yang berusaha membelokkan akal sehat akan terlihat lucu dan menggelikan. Ada kebodohan dan kedunguan yang membentuk senyawa baru  kekonyolan yang terpapar diruang publik.

Publik yang makin terpelajar tentulah akan memilih akal sehat, bukan pembelokan logika yang menyesatkan. Walaupun mengikuti kata hati dan akal sehat adalah pekerjaan yang teramat pelik, jika  kita sedang berada ditengah2 masyarakat berperadaban rendah.

Disinilah dibutuhkan jiwa-jiwa seorang pemimpin sejati, yang melihat masa depan sebagai pilihan utama dalam memecah  kejumudan yang menyelimuti pikiran masyarakatnya. Indonesia sebagai bangsa, rasa-rasanya sedang berada dalam perpecahan yang mengkhawatirkan itu. Pilpres 2019 telah mengarah pada pembelahan politik  yang berhadap-hadapan secara konyol. Terkadang kita melihat dan merasakan kecemasan itu nyata diruang maya yang kemudian tak sedikit menyeruak di alam nyata. 

Perang opini dan tindakan yang tak terpuji pun muncul  berderet saling menyusul, seperti deburan air ombak yang menghempas bibir pantai negara kesatuan republik ini. Ada rasa cemas yang menghantui, karena masing-masing pihak merasa paling benar sendiri.

Yang juga menyesakkan dada adalah hilangnya rasa saling hormat, tepo seliro, yang mengutamakan fatsun politik luhur itu hilang dalam percakapan politik para tokohnya. Seolah kita sedang kehilangan aktor politik yang sejuk, cerdas, dan mampu menyatukan bangsa dengan diksi-diksi yang smart. kualitas diksi para tokoh nasional kita buruk; mungkin justru amat buruk. 

 Lalu apa yang mesti kita berbuat?

Rasa-rasanya kita harus merenung mencari jalan keluar yang elegant dari kemelut moral yang melihat politik dari kacamata yang buram. Kita harus kembali melihat politik sebagai jalan optimis untuk mencari semburan cahaya baru yang mampu meng-energizing kehidupan bangsa ini secara keseluruhan. Dan, semua orang memastikan mampu memberi sumbangan yang berharga: minimal untuk dirinya sendiri!!

*Penulis adalah dosen pada Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang