PDRB Jabar Rp 379.4 Trllium

 

BPSJABARTODAY.COM – BANDUNG — Kendati mengalami hambatan pertumbuhan ekonomi seiring dengan terjadinya perkembangan global, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ternyata, Jabar masih bisa mencatat Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) yang cukup positif. Menurut Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisa Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, Ade Rika Agus, memasuki triwulan II 2015, Jabar mencatat pertumbuhan PDRB yang positif.

“Angkanya menjadi Rp 379,40 triliun. Angka itu lebih tinggi daripada pencapaian PDRB Jabar pada periode 3 bulan sebelumnya atau triwulan I tahun ini, yang nilainya Rp 363,99 triliun,” tandas Ade Rika, di Kantor BPS Jabar, Jalan PHH Mustopha Bandung, belum lama ini.

Ade Rika menjelaskan, berdasarkan lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada Triwulan II 2015, tidak terjadi perubahan berarti. Dilanjutkan, apabila mengacu pada penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Jabar periode April-Juni 2015, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yakni 1,37 persen. Kemudian, lanjutnya, diikuti perdagangan besar, eceran (rite), dan otomotif sebesar 0,62 persen. Sedangkan dalam hal pengeluaran, ekspor barang dan jasa kontributor terbesar yakni sejumlah 4,22 persen.

Namun, katanya, secara keseluruhan, hingga semester pertama tahun ini, Jabar masih mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhannya, sebut dia, sebesar 4,88 persen. Pertumbuhan itu, ucap dia, lebih kecil daripada pertumbuhan periode sama tahun lalu, yaitu sebesar 5,18 persen. Paruh pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi Jabar ditopang oleh meningkatnya lapangan usaha informasi dan komunikasi dalam hal produksi serta industri pengolahan.

Meski demikian, periode 3 bulan kedua tahun ini, Jabar masih mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 3,16 persen. Dalam hal produksi, pertumbuhan tertinggi dicatat lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 6,65 persen. Sementara dalam hal lapangan usaha, kontributor terbesar yaitu industri pengolahan sebesar 1,37 persen. (ADR)

Related posts