Pasokan Gas Berpotensi Alami Defisit

susilo siswoutomoJABARTODAY.COM – BANDUNG
Seiring dengan terjadinya berbagai perkembangan, tentunya, tingkat permintaan dan kebutuhan pun kian bertambah. Peningkatan kebutuhan pun terjadi pada komoditi minyak bumi dan gas. “Sebagai contoh, kebutuhan BBM (bahan bakar minyak) tiap tahunnya naik 8 persen,” jelas Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Susilo Siswoutomo, pada peluncuran Peta Jalan Kebijakan Gas Bumi Nasional 2014-2030 dan Buku Cadangan Penyangga Energi di Hotel Holiday Inn, Jumat (17/10/2014) malam.
 
Begitu pula dengan kebutuhan gas. Perkiraannya, pada periode 2015-2025, ucap Susilo, kebutuhan gas bumi naik cukup signifikan. Prediksinya, sebut dia, kenaikannya 6-7 persen setiap tahunnya.
 
Menurutnya, dalam lima tahun mendatang, atau 2019, pasokan gas nasional yang bersumber pada existing supply, prediksinya, berpotensi mengalami defisit. Potensi itu dapat terjadi, jelasnya, jika asumsinya, tidak terdapat pertambahan volume gas yang diekspor dan tingkat kebutuhan nasional tetap berada pada level 4.549 BBTUD. Karenanya, terang dia, proyek pengembangan lapangan gas, harapanya dapat memenuhi kebutuhan nasional hingga 2027.
 
Untuk itu, jelasnya, perlu adanya tata kelola gas bumi secara terstruktur guna memastikan terjadinya efisieonsi pada setiap operasional. Dia menambahkan, pemerintah perlu membangun dan membentuk Cadangan Penyangga Energi sebagai salah satu strategi untuk menjamin ketahanan energi nasional.
 
Sebenarnya, ungkap Susilo, Indonesia tidak memiliki cadangan. Sejauh ini, ucap Susilo, Indonesia hanya mengandalkan cadangan tidak wajib PT Pertamina. Cadangan tersebut, bebernya, hanya mampu memenuhi kebutuhan pasokan BBM selama 22 hari, elpiji selama 17 hari, dan 14 hari minyak mentah.
 
“Lain halnya dengan negara-negara lain, seperti Singapura dan Malaysia, bahkan Vietnam. Negara-negara itu sudah memiliki cadangan. Ini (cadangan) sangat penting karena dapat menunjang stabilitas nasional,” tutupnya. (ADR)

Related posts