Subsidi BBM Capai Rp 400 Triliun

bbmJABARTODAY.COM – BANDUNG
Mungkin, sejauh ini, hanya segelintir kalangan yang mengetahui bahwa nilai subsidi bahan bakar minyak di negara ini begitu besar. Setiap tahunnya, nilai subsidi BBM mencapai ratusan triliun.
 
“Besar sekali. Setiap tahunnya, subsidi BBM mencapai Rp 300-400 triliun atau sekitar Rp 1 triliun per hari,” tukas Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Susilo Siswoutomo, pada peluncuran Peta Jalan Kebijakan Gas Bumi Nasional 2014-2030 dan Buku Cadangan Penyangga Energi di Hotel Holiday Inn, Jumat (17/10/2014) malam.
 
Selain BBM, ujar dia, pemerintah pun menanggung biaya subsidi lain yang tidak kalah besarnya, yaitu energi listrik. Untuk energi listrik, ungkapnya, nilai subsidinya sekitar Rp 100 triliun per tahun.
 
Dikatakan, tingginya nilai subsidi itu karena kebutuhan yang semakin tinggi. Setiap tahun, sebut dia, kebutuhan BBM mengalami kenaikan sekitar 8 persen. Namun, lanjut dia, kondisi itu tidak diimbangi oleh kapasitas produksi, yang cenderung turun. Untuk itu, lanjut dia, perlu adanya berbagai perencanaan jangka panjang berkenaan dengan penemuan sumber-sumber energi, baik BBM maupun gas, maupun hal lainnya, termasuk ketersediaan infrastruktur, sistem distribusi, penetapan harga, dan sebagainya.
 
Dasar itulah yang membuat pemerintah menyusun road map jangka panjang. Road map yang merupakan hasil pembahasan dan pengkajian berbagai pemangku kepentingan itu menghasilkan sejumlah hal penting. Diantaranya, ungkap dia, perencanaan yang berkenaan dengan suplai dan ketersediaan di setiap daerah mulai Sabang sampai Merauke untuk jangka waktu panjang.
 
Kemudian, tambahnya, perencanaan yang berkaitan dengan perkiraan permintaan kebutuhan (demand) di seluruh daerah. “Jadi, pada masa mendatang, berapa pun kebutuhannya, harus dapat terpenuhi,” tegas dia.
 
Perencanaan selanjutnya, imbuh dia, berkaitan dengan ketersediaan sarana infrastruktur. Tanpa infrastruktur yang mumpuni, jelasnya, permasalahan minyak dan gas bumi nasional sulit terpecahkan. Ketersediaan infrastruktur itu, jelasnya, juga untuk menyinergikan antara suplay and demand.
 
Berikutnya, tukas Susilo, tentunya, harus ada regulasi yang mengatur perencanaan tersebut sehingga segala sesuatunya dapat berlangsung baik dan tepat sasaran. “Yang tidak kalah pentingnya, adalah perencanaan penetapan harga,” tutupnya. (ADR)

Related posts