Home » Headline » Orientasi Baru Pedagogik: Pendidikan yang Baik itu yang Membahagiakan

Orientasi Baru Pedagogik: Pendidikan yang Baik itu yang Membahagiakan

Fahrus Zaman Fadhly Dosen FKIP Universitas Kuningan
Fahrus Zaman Fadhly
Dosen FKIP Universitas Kuningan
JABARTODAY.COM-BANDUNG. Orentasi baru pedagogik menyiratkan diperlukannya cara pandang dunia (world view) baru, visi baru, pendekatan dan metode baru dalam pendidikan. Memang, perkembangan sains dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi menuntut pendidik untuk mencari pola dan pendekatan pedagogik yang baru tanpa mengeser perhatian utamanya pada esensi kemanusiaan para peserta didik yakni pendidikan yang berorentasi pada bagaimana meraih kebahagiaan.

Demikian disampaikan Fahrus Zaman Fadhly, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kuningan (FKIP UNIKU) dalam Focus Group Discussion (FGD) yang bertema “Pendidikan yang Memanusiakan Manusia” yang digelar Boemi Matahari Education Centre dan Yayasan Mutiara Bandung, di Bandung, Sabtu (27/2/2016).

“Sejatinya esensi dan hakikat kemanusiaan tidak akan pernah berubah, namun dinamika sains dan tehnologi yang acap kali menggerus nilai-nilai moral, etik dan agama. Karena itu, hemat saya, orientasi baru pedagogi yang semestinya dikembangkan ke depan adalah antara lain pendidikan yang membahagiakan dan bukan mencerdaskan; pendidikan yang menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, alam dan tehnologi; dan pendidikan yang mengintegrasikan potensi jasad, akal, dan qalbu,” tuturnya.

IMG-20160228-WA0018Fahrus mengungkapkan, yang menjadi tujuan akhir (ultimate goal) dari pendidikan sesungguhnya adalah kebahagiaan dan bukan kecerdasan. Karena kecerdasan, papar dia, sesungguhnya hanyalah sarana atau prakondisi menuju kebahagiaan, bukan tujuan akhir dari pendidikan, sebagaimana tercantum dalam Mukaddimah UUD 1945 maupun dalam UU Sisdiknas No. 30 Tahun 2013.

“Kecerdasan bukan segalanya, bahkan cukup banyak ilmuwan yang mati bunuh diri karena depresi dan putus asa. Sekedar menyebut beberapa saja dari deretan ilmuwan besar dunia yang mati bunuh diri, ada Nicolas Leblanc, ahli kimia dan ahli bedah berkebangsaan Prancis yang terkenal, Alan Turing matematikawan terkemuka Inggris, Ludwig Eduard Boltzmann fisikawan Austria yang terkenal di bidang mekanika statistik dan termodinamika statistik, Edwin Armstrong insinyur listrik Amerika yang menemukan radio FM, dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Para ilmuwan besar dunia itu, jelas fahrus, adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan luar biasa. Namun mereka tidak bahagia karena jauh dari agama dan praktik pendidikan yang berorientasi pada bagaimana meraih kebahagiaan. Agama, papar fahrus, mengajarkan orang bisa meraih kebahagiaaan baik di dunia maupun akhirat. Artinya, baik yang cerdas, setengah cerdas dan kurang cerdas pun harus meraih kebahagiaan.

“Secara pedagogik, pendidikan yang membahagiakan adalah pendidikan yang bisa mempertahankan jati diri dan hakikat kemanusiaan peserta didik dan mengarahkan mereka menjadi manusia mandiri yang sadar untuk kembali kefitrahannya. Saalah satu praktik sederhana dari pendidikan yang membahagiakan adalah saat kita bisa memberikan sebahagiaan rezeki kita kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, hemat saya, orientasi pedagogi ke depan adalah bagaimana memberikan teladan dan edukasi yang terus-menerus tentang pentingnya sikap-sikap positif sebagai prakondisi meraih kebahagiaan.

Meraih kebahagian itu, jelas dia, sungguh sederhana. Yakni saling berbagi, saling mengajak kepada kebaikan dan menghindari kemungkaran, saling peduli, saling tolong-menolong, saling mengingkatkan dan nasehat-menasehati, saling memaafkan, saling asah, asih dan asuh, empati, simpati, cinta dan sayang, saling menghormati. Semuanya nilai-nilai luhur itu yang diperintahkan Allah Ta’ala.

Lebih lanju Fahrus menambahkan manusia Indonesia yang harus dibangun ke depan adalah manusia yang mampu membangun hubungan dan pola relasi yang seimbang dan proporsional dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama, alam, dan tehnologi.

“Muara dari keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, alam dan tehnologi mesti menciptakan dedikasi dan penghambaan yang totalitas kepada Allah SWT, meraih kebahagiaan, menyelamatkan dan memakmurkan bumi dan alam, dan menempatkan tehnologi sekedar alat untuk menambah kualitas hidup (quality of life) manusia dan meningkatkan daya saing suatu produk kreatif,” ujar Kandidat Doktor Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta ini.

LGBT: Cermin Kegagalan Pendidikan yang tidak Berorientasi pada Kebahagiaan
Fenomena makin maraknya wacana disorientasi seksual seperti lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) akhir-akhir ditengarai mereka lepas dari “Frekuensi Tuhan” atau tidak mampu menjaga hubungan yang harmoni dengan tuhannya dan lingkungan sosialnya. Mereka, papar fahrus, sejatinya sedang merasakan ketidakbahagiaan sebagai produk pendidikan formal di sekolah, keluarga dan masyarakat yang terlalu berorientasi pada “prestasi”, kecerdasan dan bukan kebahagiaan.

“Pelaku LGBT adalah wujud paling nyata dari sebuah produk disorientasi psikologis, mental, kognitif, sosial dan spiritual seseorang. Pada saat yang sama, maraknya fenomena LGBT juga cermin kegagalan dari pendidikan yang dipraktikkan oleh negara-negara maju dan menjalar hingga ke negeri ini,” jelasnya.

Fahrus menambahkan, fenomena LGBT bukan genetik. Hingga kini tidak ada satu pun penelitian yang membuktikan adanya faktor genetik dari perilaku disorientasi seksual. LGBT, paparnya, adalah penyakit menular yang mesti diwaspadai oleh setiap keluarga dan bisa diterapi secara sistematik dan berkelanjutan dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. [yoga]